IQRA' BISMI RABBIK ...

IQRA' BISMI RABBIK ...

SHARE MY LINK

Pengunjung :

ISLAMIC FILES (video-mp3-doc-pdf-etc)

Rabu, 26 Januari 2011

LA ILAHA ILLALLOH Kunci Surga yang Bergerigi




LA ILAHA ILLALLOH Kunci Surga yang Bergerigi

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada ketakutan terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai Balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-Ahqaf:13-14)
***

Laa ilaaha illalloh, kalimat pendek yang mudah diucapkan walau dengan satu nafas.
Setiap orang bisa dengan mudah melafalkannya. Namun ternyata Kalimat tauhid ini menjadi sebab bahagia dan tidaknya seorang hamba. Ia gampang diucapkan tapi bernilai sangat besar.
Rasulullah SAW menyatakan :

"Barangsiapa yang di akhir ucapannya Laa ilaaha illalloh, maka pasti ia masuk surga."

Laa ilaaha illalloh adalah kunci surga. Setiap orang mungkin memiliki kunci. Tapi tidak setiap kunci bisa membuka sembarang tempat. Kunci pintu rumah kita beraneka ragam, dan hanya kunci pintu yang tepatlah yang dapat membukanya.

Ketahuilah, setiap kunci itu memiliki gerigi. Hanya susunan gerigi yang benarlah yang akan mampu membuka kunci pintunya.

Imam Al-Bukhari membuat satu bab dengan judul : "Barangsiapa yang di akhir ucapannya Laa ilaaha illalloh..., Kemudian ditanyakan kepada Wahab Bin Munabbih, "Bukankah Laa ilaaha illalloh itu kunci surga." Ia menjawab : "Benar, tetapi setiap kunci memiliki gerigi, jika engkau menggunakan kunci yang bergerigi itu maka akan terbukalah bagimu, namun jika tidak, ia tidak akan terbuka."

Gerigi kunci surga yang tepat akan menentukan terbukanya pintu surga.
Gerigi kunci surga itu menjadi syarat diterimanya Kalimat tauhid seseorang. Maka tidak setiap orang yang mengucapkan Laa ilaaha illalloh itu mampu membuka pintu surga dan memasukinya. Hal ini ditentukan oleh tepat tidaknya gerigi kunci yang ia miliki.

Kunci Surga itu memiliki delapan Gerigi:

Pertama, Meyakini isi dan kandungan Laa ilaaha illaloh, baik yang menafikan (menolak sesuatu yang tidak layak di hadapan Allah) maupun menetapkan (itsbat) yaitu menerima sesuatu yang wajib bagi Allah.

Kedua, Yakin dengan seyakin-yakinnya sehingga tiada sedikitpun keraguan, bahwa memang benar Tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Allah SWT. Sebagaimana Rasulullah SAW menyatakan : "Kalimat Asyhadu allaa ilaaha illalloh Wa inni Rasulullah, yang diucapkan seorang hamba dengan yakin tanpa keraguan, pastilah ia masuk surga." (HR. Muslim)

Ketiga, Menerima sepenuh hati konsekuensi dari kalimat tersebut dengan hati dan lisannya, sebagaimana pelajaran dari hamba-hamba Allah dahulu ketika mereka memperjuangkan kalimah tauhid tersebut, tidak sedikit yang menerima siksaan dari orang yang menolaknya.

Keempat, Tunduk dan patuh kepada tuntutan kalimat tersebut dan menentang keras segala yang menyimpang darinya.

Kelima, Membenarkan dan tidak mendustakannya sedikitpun bahwa kalimat tauhid menjadi landasan berpikir dan bertindak.

Ketujuh, Mencintai kalimat Laa ilaaha illalloh dengan segala tuntutannya serta mencintai orang-orang yang berjuang mengamalkan dan membelanya. Membenci apapun yang merusaknya.

Kedelapan, Hendaknya menolak thaghut yaitu segala macam yang disembah dan diagungkan selain Allah. Mengimani bahwa hanya Allah-lah Tuhan Pemelihara seluruh alam.
Pantas saja krisis multidimensi terjadi di wilayah yang mayoritas muslim pengucap Laa ilaaha illalloh, karena ternyata Kunci surganya tidak bergerigi atau geriginya mulai berkarat.
Allah memperingatkan:

"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat." (QS. An-Nahl:112)

Sudah saatnya kita mulai mempersiapkan kunci yang benar dari kalimat Laa ilaaha illalloh yang selama ini hanya menjadi penghias bibir belaka, sehingga dapat berfungsi kelak disaat tidak ada seorangpun yang menemani dan menolong kita. Hanya pemilik kunci yang tepat yang akan mampu membukanya.

http://www.youtube.com/watch?v=2l4X95pJAZ0


http://subhan-nurdin.blogspot.comShare/Bookmark

Senin, 24 Januari 2011

Tahiyat Isyarat Telunjuk, Kapan?

Hukum Tahiyat Gerak Telunjuk Bagian 2
Bagian 1 : http://www.scribd.com/doc/19055714/TAHIYAT-GERAK-TELUNJUK

Tahiyat Isyarat Telunjuk, Kapan?
http://subhan-nurdin.blogspot.com


1. Apakah ketika membaca LA ILAHA ILLALLOH
2. Ataukah ketika membaca ILLALLOH
3. Atau dari mulai membaca Tahiyat ?

PENJELASAN :

1. Dalil Isyarat telunjuk ketika membaca LA ILAHA ILLALLOH

. وَقَالَ صَاحِبُ سُبُلِ السَّلَامِ : مَوْضِعُ الْإِشَارَةِ عِنْدَ قَوْلِهِ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، لِمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ فِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْتَهَى

Penyusun "Subulus Salam" (Syarah Bulughul Maram, Ibnu Hajar al-'Asqalany- Imam Ash-Shan'any) mengatakan : "tempat berisyarat (dengan telunjuk ketika tahiyat) ialah ketika mengucapkan: LA ILAAHA ILLALLOH sebegaimana riwayat al-Baihaqy dari perbuatan Nabi SAW.

2. Dalil Isyarat telunjuk ketika membaca ILLALLOH

قَالَ النَّوَوِيُّ : فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ : قَالَ أَصْحَابُنَا : يُشِيرُ عِنْدَ قَوْلِهِ : إِلَّا اللَّهُ مِنْ الشَّهَادَةِ اِنْتَهَى

Imam An-Nawawy dalam Syarah Muslim mengatakan : Para ulama kami berpendapat : Isyarat telunjuk (dalam tahiyat) itu ketika membaca ILLALLOH dari bacaan syahadat.

وَقَالَ الطِّيبِيُّ فِي شَرْحِ قَوْلِهِ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ فِي حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ أَيْ رَفَعَهَا عِنْدَ قَوْلِهِ إِلَّا اللَّهُ لِيُطَابِقَ الْقَوْلُ الْفِعْلَ عَلَى التَّوْحِيدِ اِنْتَهَى . وَقَالَ عَلِيٌّ الْقَارِي فِي الْمِرْقَاةِ بَعْدَ ذِكْرِ قَوْلِ الطِّيبِيِّ هَذَا

Ath-Thiby dalam syarahnya menyatakan : "Isyarat telunjuk dalam hadits Ibnu Umar yaitu diangkat ketika mengucapkan ILLALLOH untuk menyelaraskan ucapan dan perbuatan dalam tauhid. Ali al-Qari menjelaskan dalam al-Mirqat setelah mengutip pendapat Ath-Thiby ini.

3. Dalil Isyarat telunjuk dari mulai duduk Tahiyat

قُلْت : ظَاهِرُ الْأَحَادِيثِ يَدُلُّ عَلَى الْإِشَارَةِ مِنْ اِبْتِدَاءِ الْجُلُوسِ وَلَمْ أَرَ حَدِيثًا صَحِيحًا يَدُلُّ عَلَى مَا قَالَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَفِيَّةُ . وَأَمَّا مَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ فِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أَقِفْ عَلَيْهِ وَلَمْ يَذْكُرْ صَاحِبُ السُّبُلِ سَنَدَهُ وَلَا لَفْظَهُ فَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ كَيْفَ حَالُهُ .

Menurut saya (penyusun Tuhfatul Ahwadzi bis Syarh Jami at-Tirmidzi- Al-Mubarakfury) : "Hadits-hadits cukup jelas menunjukkan bahwa berisyarat (telunjuk pada tahiyat) itu sejak mulai duduk (tahiyat). Aku tidak menemukan hadits yang shahih yang menunjukan pendapat Syafi'iyah (isyarat ketika LA ILAHA ILLALLOH) dan Hanafiyah (isyarat ketika ILLALLOH). Adapun riwayat al-Baihaqy bahwa itu perbuatan Nabi SAW saya belum menemukannya dan penyusun Subulus Salam tidak menyebutkan sanad dan matan haditsnya. Fallahu Ta'ala A'lam bagaimana sebenarnya. (Tuhfatul Ahwadzi I: 325)




تحفة الأحوذي - (1 / 325)
271 - قَوْلُهُ : ( كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ وَرَفَعَ إِصْبَعَهُ )
ظَاهِرُهُ أَنَّ رَفْعَ الْإِصْبَعِ كَانَ فِي اِبْتِدَاءِ الْجُلُوسِ
( الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ )
وَهِيَ الْمُسَبِّحَةُ
( يَدْعُو بِهَا )
أَيْ يُشِيرُ بِهَا ( بَاسِطًا كَفَّيْهِ ) بِالنَّصْبِ أَيْ حَالَ كَوْنِهِ بَاسِطًا يَدَهُ عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى مِنْ غَيْرِ رَفْعِ إِصْبَعٍ ، وَفِي رِوَايَةِ مُسْلِمٍ بَاسِطَهَا عَلَيْهَا وَهُوَ الظَّاهِرُ . وَاعْلَمْ أَنَّهُ قَدْ وَرَدَ فِي وَضْعِ الْيَدِ الْيُمْنَى عَلَى الْفَخِذِ حَالَ التَّشَهُّدِ هَيْئَاتٌ هَذِهِ إِحْدَاهَا وَلَيْسَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ ذِكْرُ قَبْضِ الْأَصَابِعِ وَكَذَلِكَ أَخْرَجَ مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ الزُّبَيْرِ وَكَذَلِكَ أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ مِنْ حَدِيثِ أَبِي حُمَيْدٍ بِدُونِ ذِكْرِ الْقَبْضِ ، وَالظَّاهِرُ أَنْ تُحْمَلَ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ عَلَى الْأَحَادِيثِ الَّتِي فِيهَا ذِكْرُ الْقَبْضِ .

وَالثَّانِيَةُ : أَنْ يَعْقِدَ الْخِنْصَرَ وَالْبِنْصِرَ وَالْوُسْطَى وَيُرْسِلَ الْمُسَبِّحَةَ وَيَضُمَّ الْإِبْهَامَ إِلَى أَصْلِ الْمُسَبِّحَةِ وَهُوَ عَقْدُ ثَلَاثَةٍ وَخَمْسِينَ كَمَا أَخْرُج مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَعَدَ فِي التَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى وَعَقَدَ ثَلَاثًا وَخَمْسِينَ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ قَالَ الْحَافِظُ فِي التَّلْخِيصِ بَعْدَ ذِكْرِ هَذَا الْحَدِيثِ : وَصُورَتُهَا أَنْ يُجْعَلَ الْإِبْهَامُ مُعْتَرِضَةً تَحْتَ الْمُسَبِّحَةِ اِنْتَهَى .

وَالثَّالِثَةُ : أَنْ يَعْقِدَ الْخِنْصَرَ وَالْبِنْصِرَ وَيُرْسِلَ السَّبَّابَةَ وَيُحَلِّقَ الْإِبْهَامَ وَالْوُسْطَى كَمَا أَخْرَجَ أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ مِنْ حَدِيثِ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ فِي وَصْفِ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهِ : ثُمَّ جَلَسَ فَافْتَرَشَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُسْرَى وَحَدَّ مِرْفَقَهُ الْأَيْمَنَ عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ ثِنْتَيْنِ وَحَلَّقَ حَلْقَةً وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ .

وَالرَّابِعَةُ : قَبْضُ الْأَصَابِعِ كُلِّهَا وَالْإِشَارَةِ بِالسَّبَّابَةِ كَمَا رَوَى مُسْلِمٌ مِنْ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ مَرْفُوعًا كَانَ إِذَا جَلَسَ فِي الصَّلَاةِ وَضَعَ كَفَّهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَقَبَضَ أَصَابِعَهُ كُلَّهَا وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ . قَالَ الزَّيْلَعِيُّ : الْأَخْبَارُ وَرَدَتْ بِهَا جَمِيعًا ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ مَرَّةً هَكَذَا وَمَرَّةً هَكَذَا . وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْأَمِيرُ فِي سُبُلِ السَّلَامِ : الظَّاهِرُ أَنَّهُ مُخَيَّرٌ بَيْنَ هَذِهِ الْهَيْئَاتِ اِنْتَهَى . فَجَعَلَ الْحَافِظُ اِبْنَ الْقَيِّمِ فِي زَادَ الْمَعَادِ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ كُلَّهَا وَاحِدَةً وَتَكَلَّفَ فِي بَيَانِ تَوْحِيدِهَا . وَالْحَقُّ مَا قَالَ الرَّافِعِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْأَمِيرُ .
قَوْلُهُ : ( حَدِيثُ اِبْنِ عُمَرَ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِلَخْ )
وَأَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ .

قَوْلُهُ : ( وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالتَّابِعِينَ يَخْتَارُونَ الْإِشَارَةَ فِي التَّشَهُّدِ وَهُوَ قَوْلُ أَصْحَابِنَا )

الْمُرَادُ بِقَوْلِهِ أَصْحَابُنَا أَهْلُ الْحَدِيثِ رَحِمَهُمْ اللَّهُ تَعَالَى كَمَا حَقَّقْنَاهُ فِي الْمُقَدِّمَةِ ، وَكَانَ لِلتِّرْمِذِيِّ أَنْ يَقُولَ : وَالْعَمَلُ عَلَيْهِ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ أَوْ عِنْدَ عَامَّةِ أَهْلِ الْعِلْمِ ، فَإِنَّهُ لَا يُعْرَفُ فِي هَذَا خِلَافُ السَّلَفِ . قَالَ مُحَمَّدٌ فِي مُوَطَّئِهِ بَعْدَ ذِكْرِ حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ فِي الْإِشَارَةِ : وَبِصُنْعِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَأْخُذُ . وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ اِنْتَهَى . قَالَ عَلِيٌّ الْقَارِي : وَكَذَا قَوْلُ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَلَا يُعْرَفُ فِي الْمَسْأَلَةِ خِلَافُ السَّلَفِ مِنْ الْعُلَمَاءِ وَإِنَّمَا خَالَفَ فِيهَا بَعْضُ الْخَلَفِ فِي مَذْهَبِنَا مِنْ الْفُقَهَاءِ اِنْتَهَى .

وَقَالَ صَاحِبُ التَّعْلِيقِ الْمُمَجَّدِ مِنْ الْعُلَمَاءِ الْحَنَفِيَّةِ ، أَصْحَابُنَا الثَّلَاثَةُ يَعْنِي أَبَا حَنِيفَةَ وَأَبَا يُوسُفَ وَمُحَمَّدًا اِتَّفَقُوا عَلَى تَجْوِيزِ الْإِشَارَةِ لِثُبُوتِهَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ بِرِوَايَاتٍ مُتَعَدِّدَة وَقَدْ قَالَ بِهِ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ الْعُلَمَاءِ حَتَّى قَالَ اِبْنُ عَبْدِ الْبَرِّ إِنَّهُ لَا خِلَافَ فِي ذَلِكَ ، وَإِلَى اللَّهِ الْمُشْتَكَى مِنْ صَنِيعِ كَثِيرٍ مِنْ أَصْحَابِنَا مِنْ أَصْحَابِ الْفَتَاوَى كَصَاحِبِ الْخُلَاصَةِ وَغَيْرِهِ حَيْثُ ذَكَرُوا أَنَّ الْمُخْتَارَ عَدَمُ الْإِشَارَةِ بَلْ ذَكَرَ بَعْضُهُمْ أَنَّهَا مَكْرُوهَةٌ ، فَالْحَذَرُ الْحَذَرُ مِنْ الِاعْتِمَادِ عَلَى قَوْلِهِمْ فِي هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ اِنْتَهَى .

تَنْبِيهٌ : قَالَ النَّوَوِيُّ : فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ : قَالَ أَصْحَابُنَا : يُشِيرُ عِنْدَ قَوْلِهِ : إِلَّا اللَّهُ مِنْ الشَّهَادَةِ اِنْتَهَى . وَقَالَ صَاحِبُ سُبُلِ السَّلَامِ : مَوْضِعُ الْإِشَارَةِ عِنْدَ قَوْلِهِ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، لِمَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ فِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْتَهَى . وَقَالَ الطِّيبِيُّ فِي شَرْحِ قَوْلِهِ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ فِي حَدِيثِ اِبْنِ عُمَرَ أَيْ رَفَعَهَا عِنْدَ قَوْلِهِ إِلَّا اللَّهُ لِيُطَابِقَ الْقَوْلُ الْفِعْلَ عَلَى التَّوْحِيدِ اِنْتَهَى . وَقَالَ عَلِيٌّ الْقَارِي فِي الْمِرْقَاةِ بَعْدَ ذِكْرِ قَوْلِ الطِّيبِيِّ هَذَا : وَعِنْدَنَا يَعْنِي الْحَنَفِيَّةِ يَرْفَعُهَا عِنْدَ لَا إِلَهَ وَيَضَعُهَا عِنْدَ إِلَّا اللَّهَ لِمُنَاسَبَةِ الرَّفْعِ لِلنَّفْيِ وَمُلَاءَمَةِ الْوَضْعِ لِلْإِثْبَاتِ وَمُطَابَقَةً بَيْنَ الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ حَقِيقَةً اِنْتَهَى .
قُلْت : ظَاهِرُ الْأَحَادِيثِ يَدُلُّ عَلَى الْإِشَارَةِ مِنْ اِبْتِدَاءِ الْجُلُوسِ وَلَمْ أَرَ حَدِيثًا صَحِيحًا يَدُلُّ عَلَى مَا قَالَ الشَّافِعِيَّةُ وَالْحَنَفِيَّةُ . وَأَمَّا مَا رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ مِنْ فِعْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ أَقِفْ عَلَيْهِ وَلَمْ يَذْكُرْ صَاحِبُ السُّبُلِ سَنَدَهُ وَلَا لَفْظَهُ فَاَللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ كَيْفَ حَالُهُ .

تَنْبِيهٌ آخَرُ : قَدْ جَاءَ فِي تَحْرِيكِ السَّبَّابَةِ حِينَ الْإِشَارَةِ حَدِيثَانِ مُخْتَلِفَانِ ، فَرَوَى أَبُو دَاوُدَ وَالنَّسَائِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيرُ بِأُصْبُعِهِ إِذَا دَعَا وَلَا يُحَرِّكُهَا . قَالَ النَّوَوِيُّ إِسْنَادُهُ صَحِيحٌ فَهَذَا الْحَدِيثُ يَدُلُّ صَرَاحَةً عَلَى عَدَمِ التَّحْرِيكِ وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ . وَحَدِيثُ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ يَدُلُّ عَلَى التَّحْرِيكِ وَهُوَ مَذْهَبُ مَالِكٍ . قَالَ الْبَيْهَقِيُّ : يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُونَ الْمُرَادُ بِالتَّحْرِيكِ الْإِشَارَةُ بِهَا لَا تَكْرِيرُ تَحْرِيكِهَا حَتَّى لَا يُعَارَضَ حَدِيثُ اِبْنِ الزُّبَيْرِ عِنْدَ أَحْمَدَ وَأَبِي دَاوُدَ وَالنَّسَائِيِّ وَابْنِ حِبَّانَ فِي صَحِيحِهِ بِلَفْظِ : كَانَ يُشِيرُ بِالسَّبَّابَةِ وَلَا يُحَرِّكُهَا وَلَا يُجَاوِزُ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ . قَالَ الشَّوْكَانِيُّ فِي النَّيْلِ : وَمِمَّا يُرْشِدُ إِلَى مَا ذَكَرَهُ الْبَيْهَقِيُّ ، رِوَايَةُ أَبِي دَاوُدَ لِحَدِيثِ وَائِلٍ فَإِنَّهَا بِلَفْظِ : وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ اِنْتَهَى .

فَائِدَةٌ : السُّنَّةُ أَنْ لَا يُجَاوِزَ بَصَرُهُ إِشَارَتَهُ كَمَا فِي حَدِيثِ اِبْنِ الزُّبَيْرِ الْمَذْكُورِ آنِفًا وَيُشِيرُ بِهَا مُوَجَّهَةً إِلَى الْقِبْلَةِ وَيَنْوِي بِالْإِشَارَةِ التَّوْحِيدَ وَالْإِخْلَاصَ . وَقَالَ اِبْنُ رَسْلَانَ : وَالْحِكْمَةُ فِي الْإِشَارَةِ بِهَا أَنَّ الْمَعْبُودَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَاحِدٌ لِيَجْمَعَ فِي تَوْحِيدِهِ بَيْنَ الْقَوْلِ وَالْفِعْلِ وَالِاعْتِقَادِ



http://subhan-nurdin.blogspot.comShare/Bookmark

Senin, 07 Juni 2010

Posisi Shaf Shalat Berjama'ah


Rapatkan Barisan Berjama'ah...
Posisi Shaf Shalat Berjama'ah
http://subhan-nurdin.blogspot.com



03 Juni 2010 jam 23:32
61. Surat As-Saff, Medinan, 14 verses
٦١. سورة الصف, مدنية, 14 آية
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذينَ يُقٰتِلونَ فى سَبيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنيٰنٌ مَرصوصٌ ﴿٤﴾

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

Ra-Sad-Sad

to cement or join together, make compact, stack, overlay with lead. trassa - to close ranks. arassa - having the teeth close together.

رصص

''ر ص ص'' وتَدُور حَوْلَ:
- الضَّمِّ: فَالبُنْيانُ المَرْصُوصُ هُوَ المُحْكَمُ قال تَعالَى (إنَّ اللهَ يُحِبُّ الذينَ يُقاتِلُونَ في سَبِيلِه صَفًّا كأنَّهُمْ بُنْيانٌ مَرْصُوصٌ)، والرَّصَاصُ هُوَ عُنْصُرٌ فِلِزِّىٍّ لَيِّنٍ وزْنُهُ الذَرِّىُّ 21, 207 وعَدُدُهُ الذَرِّىُّ 82 وكَثافَتُهُ 11,34 ويَنْصِهِرُ عِندَ 327م
رَصَّهُ يَرْصُّهُ رَصًّا اى ضَمَ بَعْضَهُ إلَى بَعْضٍ، وأيْضًا أحْكَمَهُ بالرَّصاصِ أو طَلَاهُ بِهِ، ورَصَّ الشَّىءُ كالأسْنانِ يَرَصُّ رَصًصًا أى انْتَظَمَّ واسْتَوَى مَعَ انْضِمَامٍ فهُوَ أَرَصُّ وهِىَ رَصَّاءُ، ورَصَّصَ الشَّىءَ أى عَمِلَهُ بالرَّصاصِ أوْ طلاهُ بِهِ، وتَرَصَّصَتِ الأشْياءُ وارْتَصَّتْ أى انْضَمَّ بَعْضُها إلَى بَعْضٍ (وكذلِكَ تَرَاصَّتْ)، والرَّصاصُ هُوَ الطَّلْقُ النَّارِىُّ، وقَلَمُ الرَّصاصِ هُوَ القَلْمُ الخَشَبِىُّ الذِي مُحْتُوَاهُ مَادَّةُ الجَرافِيتِ ويُكْتَبُ بِها مِنْ غَيرِ حِبْرٍ، والرَّصِيصُ هُوَ نِقابُ المَرأةِ ورَصَّصَتِ المَرأةُ أى تَنَقَّبَتْ فلا يُرَى إلَّا عَيْناهَا، ورَصَّصَت النِّقابَ أى أدْنَتْهُ.

رقم الحديث: 1461
(حديث مرفوع) نا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرِ بْنِ رِبْعِيٍّ الْقَيْسِيُّ ، نا مُسْلِمٌ يَعْنِي ابْنَ إِبْرَاهِيمَ ، نا أَبَانُ بْنُ يَزِيدَ الْعَطَّارُ ، ثنا قَتَادَةُ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " رُصُّوا صُفُوفَكُمْ ، وَقَارِبُوا بَيْنَهَا ، وَحَاذُوا بِالأَعْنَاقِ ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنِّي لأَرَى الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ مِنْ خِلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ " . قَالَ مُسْلِمٌ : يَعْنِي النَّقَدَ الصِّغَارَ ، النَّقَدُ الصِّغَارُ : أَوْلادُ الْغَنَمِ .

الحكم المبدئي: إسناده متصل، رجاله ثقات.

MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF DALAM SHOLAT BERJAMAAH

Di antara syari'at yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada umatnya adalah meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah. Barangsiapa yang melaksanakan syari'at, petunjuk dan ajaran-ajarannya dalam meluruskan dan merapatkan shaf, sungguh dia telah menunjukkan ittiba' nya [mengikuti] dan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Adapun hadits-hadits yang memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf diantaranya sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

Artinya: "Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Rabb mereka ?" Maka kami berkata: "Wahai Rasulullah , bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka ?" Beliau menjawab : "Mereka menyempurnakan barisan-barisan [shaf-shaf], yang pertama kemudian [shaf] yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan"
[HR. Muslim, An Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah].

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An Nu'man bin Basyir, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata:

Artinya: Dahulu Rasullullah meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau memandang kami telah paham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sampai shof kami telah rapi-pent), kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau bersabda: "Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian".
[HR. Muslim]

Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Anas ra., Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

Artinya: "Tegakkan [luruskan dan rapatkan, pent-] shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku"
[HR. Al Bukhari dan Muslim],

dan pada riwayat Al Bukhari, Anas r.a. berkata:

"Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya pada bahu temannya dan kakinya pada kaki temannya"

sedangkan pada riwayat Abu Ya'la, berkata Anas:

"Dan jika engkau melakukan yang demikian itu pada hari ini, sungguh engkau akan melihat salah satu dari mereka seolah-olah seperti keledai liar yaitu dia akan lari darimu."

Dari hadits-hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf pada waktu shalat berjamaah karena hal tersebut termasuk kesempurnaan shalat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

"Luruskan shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat".

Bahkan sampai ada sebagian ulama yang mewajibkan hal itu, sebagaimana perkataan Syeikh Al-Albani rahimahullah dalam mengomentari sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam : '... atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian': "Sesungguhnya ancaman semacam ini tidak dikatakan didalam perkara yang tidak diwajibkan, sebagaimana tidak samar lagi [pengertian seperti itu dikalangan ahli ilmu, pent-]". Akan tetapi sungguh amat sangat disayangkan, sunnah meluruskan dan merapatkan shaf ini telah diremehkan bahkan dilupakan kecuali oleh segelintir kaum muslimin.

Berkata Syeikh Masyhur Hasan Salman: "Apabila jamaah shalat tidak melaksanakan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas dan An Nu'man maka akan selalu ada celah dan ketidaksempurnaan dalam shaf. Dan pada kenyataannya -kebanyakan- para jamaah shalat apabila mereka merapatkan shaf maka akan luaslah shaf [menampung banyak jamaah, pent-] khususnya shaf pertama kemudian yang kedua dan yang ketiga. Apabila mereka tidak melakukannya, maka:

Pertama: Mereka terjerumus dalam larangan syar'i, yaitu tidak meluruskan dan merapatkan shaf.

Kedua: Mereka meninggalkan celah untuk syaithan dan Allah akan memutuskan mereka, sebagaimana hadits dari Umar bin Al Khaththab bahwasanya Nabi bersabda:

"Tegakkan shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian dan tutuplah celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaithan, barangsiapa yang menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya dan barangsiapa memutus shaf niscaya Allah akan memutuskannya".
[HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim ]

Ketiga: Terjadi perselisihan dalam hati-hati mereka dan timbul banyak pertentangan di antara mereka, sebagaimana dalam hadits An Nu'man terdapat faedah yang menjadi terkenal dalam ilmu jiwa, yaitu: sesungguhnya rusaknya dhahir mempengaruhi rusaknya batin dan kebalikannya. Disamping itu bahwa sunnah meluruskan dan merapatkan shaf menunjukkan rasa persaudaraan dan saling tolong-menolong, sehingga bahu si miskin menempel dengan bahu si kaya dan kaki orang lemah merapat dengan kaki orang kuat, semuanya dalam satu barisan seperti bangunan yang kuat, saling menopang satu sama lainnya.

Keempat: Mereka kehilangan pahala yang besar yang dikhabarkan dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya sabda Nabi:

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada orang yang menyambung shaf".
[HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dan Ibnu Khuzaimah].

Dan sabda Nabi yang shahih:

"Barangsiapa menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya".
[HR.Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah]

Dan sabda Nabi yang lain:

Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut bahunya (mau untuk ditempeli bahu saudaranya -pent) ketika shalat, dan tidak ada langkah yang lebih besar pahalanya daripada langkah yang dilakukan seseorang menuju celah pada shaf dan menutupinya".
[HR. Ath Thabrani, Al Bazzar dan Ibnu Hiban].

Keutamaan shaf pertama bagi laki-laki.

Diantara haditsnya adalah :

Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan, dan sejelek-jelek shaf laki-laki adalah yang laing belakang, sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling belakang, dan sejelek-jelek shaf perempuan adalah yang paling depan.
(H.R. Muslim).

Kalaulah manusia mengetahui apa yang terdapat di azan dan shaf pertama (dari besarnya pahala-pent) kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali dengan diundi, maka pastilah mereka telah mengadakan undian, dan kalaulah mereka mengetahui apa yang terdapat di sikap selalu didepan, pastilah mereka telah mendahuluinya, dan kalaulah mereka mereka mengetahui apa yang terdapat di shalat isya dan shalat subuh (dari keuntungan) maka pastilah mereka mendatangi keduanya walaupun dengan merayap.
(Bukhari dan Muslim.)

Keutamaan mendapat takbiratul ihram bersama imam

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

Barangsiapa talah melakukan shalat karena Allah selama 40 hari berjama’ah, ia mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram dengan imam –pent), maka dicatatlah baginya dua kebebasan ; kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari kemunafikan. (H.R. Tirmidzi dari Anas, dihasankan oleh Syeikh Al Albani di kitab shahih Al Jami’ II/1089).


================


a. Posisi shalat berjama'ah dua orang

Jika yang berjama'ahnya dua orang, hendaklah ma'mum berdiri di sebelah kanan imam. Jika yang berjama'ahnya terdiri dari dua orang atau lebih, hendaklah ma'mum berdiri di belakang imam. Hal ini didasarkan pada hadits berikut :

Jabir ibn Abdillah RA berkata, Nabi SAW berdiri shalat Maghrib, lalu aku datang dan berdiri di sebelah kirinya. Beliau melarang saya dan menjadikan saya di sebelah kanannya. Lalu datang seorang kawanku. Maka kami berdiri di belakangnya. *) 275

*) 275 Shahih Ibnu Khuzaimah 3:18 no. 1535, Musnad Ahmad ibnu Hanbal 3:326 no. 14536

(Risalah Shalat, Dewan Hisbah PP Persis, hlm. 153)

=========

Adapun hadits yang mengkhabarkan bahwa Rasulullah pernah melihat seseorang shalat sendirian dibelakang shaf, maka beliau memerintahkan dia untuk mengulangi shalatnya. (H.R Abu Dawud dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albany dalam shahih Abu Dawud no.633)

Larangan hadits ini berlaku bagi mereka yang mendapatkan shaf dalam keadaan lowong dan masih ada kemungkinan untuk masuk padanya. Sementara bagi mereka yang tidak menjumpai celah yang kosong sama sekali pada shaf, maka dia boleh shalat sendirian dibelakang karena termasuk orang yang mendapatkan udzur (keringanan). Dan tidak diperbolehkan baginya untuk menarik seseorang yang ada di shaf depannya dalam rangka mengamalkan hadits yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani :

إِذَا انْتَهَى أَحُدُكُمْ إِلَى الصَّفِ وَقَدْ تَمَّ فَلْيَجْذِبْ إِلَيْهِ رَجُلاً يُقِيِمُه إِلَىجَنْبِهِ

“Bila seseorang diantara kalian mendapati shaf yang telah sempurna, maka hendaklah dia menarik seseorang hingga berdiri disebelahnya.” Karena Hadits ini adalah dha’if (lemah) sehingga tidak boleh dijadikan sandaran dalam beramal. (lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 921 karya Asy Syaikh Al Albani

(www.assalafy.org/mahad/?p=112)


Penjelasan :

Hadits di atas memang keduanya dla'if karena ada rawi bernama Syurahbil ia dipandang dla'if oleh para ahli hadits. seperti dijelaskan dlm Tahdzibul Kamal :

[2714] بخ د ق شرحبيل بن سعد أَبُو سعد الخطمي المدني
مولى الأنصار

روى عن
1- جابر بْن عَبْد اللَّهِ بخ د ق
2- والحسن بْن علي بْن أبي طالب
3- وزيد بْن ثابت
4- وعَبْد اللَّهِ بْن عباس بخ ق
5- وعَبْد اللَّهِ بْن عُمَر بْن الخطاب
6- وعويم بْن ساعدة الأنصاري
7- وأَبِي رافع مولى النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ ق
8- وأَبِي سَعِيد الخدري د
9- وأَبِي هريرة

روى عنه
1- إسماعيل بْن أمية
2- والحكم بْن عَبْد الرحمن بْن أبي نعم البجلي
3- وزياد بْن سعد
4- وزيد بْن أبي أنيسة
5- والضحاك بْن عُثْمَانَ الحزامي ق
6- وعاصم الأحول
7- وأَبُو الزناد عَبْد اللَّهِ بْن ذكوان
8- وأَبُو أويس عَبْد اللَّهِ بْن عَبْد اللَّهِ المدني ق
9- وعَبْد الرحمن بْن أبي الزناد
10- وعَبْد الرحمن بْن سُلَيْمَان بْن الغسيل
11- وعكرمة مولى ابْن عباس ومات قبله بدهر طويل
12- وعمارة بْن غزية بخ د
13- وفطر بْن خليفة بخ د
14- ومالك بْن أنس وكنى عنه ولم يسمه
15- ومحمد بْن إسحاق بْن يسار
16- ومحمد بْن عَبْد الرحمن بْن أبي ذئب د
17- ومخول بْن راشد ق وكناه ولم يسمه
18- ومصعب بْن مُحَمَّد بْن شرحبيل العبدري
19- وموسى بْن عقبة
20- ونجيح أَبُو معشر المدني
21- ويحيى بْن سَعِيد الأنصاري
22- ويزيد بْن الهاد بخ د
23- ويونس بْن عَبْد اللَّهِ بْن أبي فروة

علماء الجرح والتعديل

قال 1 يزيد بْن هارون , عَن ابن أبي ذئب 1: 2 أَخْبَرَنَا شرحبيل وهو شرحبيل وقد بينا لكم 2

وقال 1 حجاج بْن مُحَمَّد، عَنِ ابن أبي ذئب 1: 2 حَدَّثَنَا شرحبيل بْن سعد، وكَانَ متهما 2 .

وقال 1 بشر بْن عُمَر 1: 2 سألت مَالِك بْن أنس، عَنْ شرحبيل بْن سعد فقال: ليس بثقة 2 .

وقال 1 عَمْرو بْن علي 1: 2 سألت يحيى القطان، قال: قال رجل لابن إسحاق: كيف حديث شرحبيل بْن سعد ؟ فقال: واحد يحدث عَنْ شرحبيل بْن سعد، قال يحيى: العجب من رجل يحدث عَنِ اهل الكتاب، ويرغب عَنْ شرحبيل، وها هنا من يحدث عنه 2 .

وقال 1 علي بْن المديني 1: 2 قلت لسفيان بْن عيينة: كَانَ شرحبيل بْن سعد يفتي ؟ قال: نعم، ولم يكن أحد أعلم بالمغازي والبدريين منه، فاحتاج فكأنهم اتهموه

وقال فِي موضع آخر: سمعت سُفْيَان، وسئل عَنْ شرحبيل بْن سعد، قال: لم يكن أحد بالمدينة أعلم بالبدريين منه، واصابته حاجة، فكانوا يخافون إذا جاء إلى الرجل يطلب منه الشيء فلم يعطه، إن يقول: لم يشهد أبوك بدرا 2 .

وقال 1 عباس الدوري، عَنْ يحيى بْن معين 1: 2 ليس بشيء ضعيف

وقال فِي موضع آخر: كَانَ أَبُو جابر البياضي كذابا، وشرحبيل بْن سعد خير من ملء الأرض مثله 2 .

وقال 1 أَحْمَد بْن سعد بْن أبي مريم، عَنْ يحيى بْن معين 1: 2 ضعيف يكتب حديثه 2

وقال مُحَمَّد بْن سعد 1: 2 كَانَ شيخا قديما روى عن زيد بْن ثابت، وأَبِي هريرة، وأَبِي سَعِيد، وعامة أصحاب رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ، وبقي إلى آخر الزمان حتى اختلط، واحتاج حاجة شديدة، وله أحاديث وليس يحتج به 2 .

وقال 1 أَبُو زرعة 1: 2 فيه لين 2 .

وقال 1 النسائي 1: 2 ضعيف 2 .

وقال 1 الدارقطني 1: 2 ضعيف يعتبر به 2 .

وقال 1 أَبُو أَحْمَد بْن عدي 1: 2 له أحاديث وليست بالكثيرة، وفي عامة ما يرويه إنكار , على أنه قد حدث عنه جماعة من أهل المدينة من ائمتهم وغيرهم إلا مَالِك بْن أنس، فإنه كره الرواية عنه، وكنى عَنِ اسمه فِي الحديثين اللذين ذكرتهما، وهو إلى الضعف أقرب يعني حديث مَالِك أَنَّهُ بلغه عَنْ جابر بْن عَبْد اللَّهِ، أن رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ، قال: “ من لم يجد ثوبين فليصل فِي ثوب واحد ملتحفا به، فإن كَانَ الثوب صغيرا فليأتزر به “ . وحديث: “ إذا عاد الرجل المريض خاض الرحمة حتى إذا قعد عنده قرب منه أو نحو هذا “ 2 .

2 ذكره ابن حبان فِي كتاب الثقات , وقال مات سنة ثلاث وعشرين ومائة 2

روى له البخاري فِي الأدب، وأَبُو داود، وابن مَاجَهْ

رقم الحديث: 7975



(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ ، نَا حَفْصُ بْنُ عَمْرٍو الرَّبَالِيُّ ، نَا بِشْرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، حَدَّثَنِي الْحَجَّاجُ بْنُ حَسَّانَ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الصَّفِّ وَقَدْ تَمَّ ، فَلْيَجْذِبْ إِلَيْهِ رَجُلا يُقِيمُهُ إِلَى جَنْبِهِ " . لا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ ، تَفَرَّدَ بِهِ : بِشْرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ .

الحكم المبدئي: إسناد فيه بشر بن إبراهيم الأنصاري وهو يضع الحديث.

# العالم القول
1 أبو أحمد بن عدي الجرجاني منكر الحديث عن الثقات والأئمة، لا أدري كيف عقل من تكلم في الرجال عنه فإني لم أجد له كلاما وهو بين الضعف جدا ورواياته التي يرويها عمن يروي غير محفوظة وهو عندي ممن يضع الحديث على الثقات، وما ذكرته عنه عن الأوزاعي وثور بن يزيد ومبارك بن فضالة وأبو حرة وغيرهم
2 أبو جعفر العقيلي روى أحاديث موضوعة عن الأوزاعي لا يتابع عليها
3 أبو حاتم الرازي شيخ ضعيف الحديث
4 أبو حاتم بن حبان البستي يضع الحديث على الثقات لا يحل ذكره في الكتب إلا على سبيل القدح فيه


رقم الحديث: 1452
(حديث مرفوع) نا بُنْدَارٌ ، نا أَبُو بَكْرٍ يَعْنِي الْحَنَفِيَّ ، نا الضَّحَّاكُ بْنُ عُثْمَانَ ، حَدَّثَنِي شُرَحْبِيلُ وَهُوَ ابْنُ سَعْدٍ أَبُو سَعْدٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ ، يَقُولُ : " قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْمَغْرِبَ ، فَجِئْتُهُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَنْ يَسَارِهِ ، فَنَهَانِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ، ثُمَّ جَاءَ صَاحِبٌ لِي ، فَصَفَفْنَا خَلْفَهُ ، فَصَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ مُخَالِفًا بَيْنَ طَرَفَيْهِ " .

الحكم المبدئي: إسناد ضعيف فيه شرحبيل بن سعد الخطمي وهو ضعيف الحديث.

Maka hadits ini tidak bisa dijadikan dalil. Adapun dalil hadits yg shahih untuk posisi ma'mum dua orang (imam & 1 ma'mum) adalah :

hadits Ibnu Abbas رضالله عنه beliau berkata:

” بتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُوْنَةَ فَصَلَّى رَسولُ الله العِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ فَصَلّى أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ ثُمَّ ناَمَ ثُمَّ قاَمَ فَجِئْتُ (وَفِي رِوَايَة : فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ) عَنْ يسَارِهِ فَجَعَلَنِيْ عَنْ يَمِيْنِهِ”

“Aku bermalam dirumah bibiku (yaitu) Maimunah, ketika itu Rasulullah shalat isya’ kemudian beliau pulang ke rumah dan shalat empat rakaat, kemudian tidur. Setelah itu beliau bangun untuk shalat maka aku pun berdiri disamping kirinya kemudian beliau memindahkan aku ke samping kanannya”. (H.R Al Bukhari no.697)

Al Imam Al Bukhari menjadikan hadits diatas sebagai dalil bahwa posisi dua orang yang shalat berjama’ah adalah sejajar. Al Hafizh Ibnu Hajar menerangkan bahwa makna sejajar yaitu tidak maju dan tidak mundur, berdasarkan konteks dhohir hadits Ibnu Abbas: فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ)). (Lihat Fathul Bari hadits no. 697)

dan dalil ma'mum yg masbuk membuat shaf baru dan dilarang menyendiri adalah :

hadits yang mengkhabarkan bahwa Rasulullah pernah melihat seseorang shalat sendirian dibelakang shaf, maka beliau memerintahkan dia untuk mengulangi shalatnya. (H.R Abu Dawud dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albany dalam shahih Abu Dawud no.633)

- Larangan ma'mum yg masbuk menarik ma'mum pada shaf di depannya, bertentangan dengan makna "shaf" itu sendiri yg artinya berbaris dan keharusan merapatkan shaf dalam shalat berjama'ah.

Maka ma'mum masbuk menarik ma'mum yg paling kanan atau menepuknya untuk berdiri di sebelah kanannya itu sejalan dengan hadits shahih yg menjelaskan Rasulullah SAW memindahkan posisi Ibnu Abbas ke sebelah kanan beliau.

- Memulai shaf baru bukan di tengah-tengah shaf, tetapi di sebelah kanan sebagaimana hadits2 shahih tentang perintah memulai segala sesuatu di sebelah kanan.

Wallahu A'lam Bish Shawwab

http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=475&hid=7975&pid=674464
http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=121&hid=14204&pid=672359
http://www.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?bk_no=345&hid=1452&pid=453771

Soal: ada hadis sebagai berikut
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ وَسِّطُوا اْلإِمَامَ وَسُدُّوا الْخَلَلَ. رواه أبو داود

Dari Abu Hurairah, ia berkata,”Rasulullah saw. bersabda,’Jadikanlah imam itu berada di tengah kalian dan tutuplah kerenggangan-kerenggangan dalam shaf”. H.r. Abu Daud
Bukankah hadis ini menunjukkan bahwa makmum mesti menjadikan imam ada di tengah?! dan hadis ini umum tidak untuk yang bershaf di depan saja tapi bagi makmum yang berada di shaf kedua dan seterusnya..

Jawab: hadits tsb dla'if sekali
رقم الحديث: 582
(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُسَافِرٍ ، حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ بَشِيرِ بْنِ خَلَّادٍ ، عَنْ أُمِّهِ ، أَنَّهَا دَخَلَتْ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ فَسَمِعَتْهُ ، يَقُولُ : حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " وَسِّطُوا الْإِمَامَ وَسُدُّوا الْخَلَلَ " .

الحكم المبدئي: إسناد شديد الضعف فيه راو مجهول هي أمة الواحد بنت يامين النصرية.

dan jika memulai shaf kedua bagi makmum yg masbuk tentu akan memutuskan shaf pertama dan trjadi kekosongan dlm shaf berjama'ah yg dilarang oleh Rasulullah SAW.

ada hadits hasan رقم الحديث: 357
(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ هَارُونَ ، قَالَ : ثنا ابْنُ مَنِيعٍ ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ ، ثنا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ ، عَنْ عَجْلانَ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : " إِنِّي لأَنْظُرُ إِلَى مَا وَرَائِي كَمَا أَنْظُرُ إِلَى مَا بَيْنَ يَدَيَّ ، فَأَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ " .

الحكم المبدئي: إسناده حسن رجاله ثقات عدا عجلان مولى المشمعل وهو صدوق حسن الحديث ، وعلي بن هارون الحربي وهو صدوق تغير بآخره.

"Sesungguhnya aku melihat (ma'mum) yg dibelakangku seperti aku melihat di antara dua tanganku (di hadapanku), maka rapihkanlah shaf kalian."
hadits ini bukan menunjukan mulai shaf di tengah imam, tp anjuran untuk memperhatikan kerapihan/kerapatan shaf.

hadits abu dawud juga diriwayatkan oleh Ath-Thabrani & al-Baihaqy, tp semuanya dla'if...
رقم الحديث: 4788
(حديث مرفوع) أَخْبَرَنَا أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذْبَارِيُّ ، أنبأ أَبُو بَكْرِ بْنُ دَاسَةَ ، ثنا أَبُو دَاوُدَ ، ثنا جَعْفَرُ بْنُ مُسَافِرٍ ، ثنا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ بَشِيرِ بْنِ خَلادٍ ، عَنْ أُمِّهِ أَنَّهَا دَخَلَتْ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ ، فَسَمِعَتْهُ يَقُولُ : حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " تَوَسَّطُوا الإِمَامَ ، وَسُدُّوا الْخَلَلَ " .

الحكم المبدئي: إسناد شديد الضعف فيه راو مجهول هي أمة الواحد بنت يامين النصرية.


[ تخريج ] [ شواهد ] [ أطراف ] [ الأسانيد ]

رقم الحديث: 4596
(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الصَّقْرِ السُّكَّرِيُّ ، قَالَ : نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ ، قَالَ : نا يَحْيَى بْنُ بَشِيرِ بْنِ خَلادٍ ، قَالَ : حَدَّثَتْنِي أَمَةُ الْوَاحِدِ بِنْتُ يَامِينَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ النَّصْرِيِّ ، قَالَتْ : دَخَلْتُ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ ، فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : حَدَّثَنِي أَبُو هُرَيْرَةَ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : " وَسِّطُوا الإِمَامَ ، وَسُدُّوا الثُّلَمَ لا يَتَخَلَّلْهَا الشَّيْطَانُ ، وَضَعُوا نِعَالِكُمْ بَيْنَ أَقْدَامِكُمْ " . لا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ ، تَفَرَّدَ بِهِ يَحْيَى بْنُ بَشِيرٍ .

الحكم المبدئي: إسناد شديد الضعف فيه راو مجهول هي أمة الواحد بنت يامين النصرية.



وسطوا الإمام وسدوا الثلم لا يتخللها الشيطان وضعوا نعالكم بين أقدامكم عبد الرحمن بن صخر المعجم الأوسط للطبراني 4596 4457 سليمان بن أحمد الطبراني 360

توسطوا الإمام وسدوا الخلل عبد الرحمن بن صخر السنن الكبرى للبيهقي 4788 3:104 البيهقي 458


عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَامَ رَسُولُ اللهِ يُصَلِّي الْمَغْرِبَ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَأَدَارَنِي حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللهِ فَأَخَذَ بِيَدَيْنَا جَمِيعًا فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ. رواه مسلم

Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata,”Rasulullah saw. berdiri salat maghrib, lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau, kemudian beliau memegang tanganku, memutarku hingga menempatkan aku di sebelah kanan beliau. Kemudian datang Jabbar bin Shakher, ia berwudhu terus datang (menuju salat), lalu ia berdiri di sebelah kiri Rasululalh saw. Lalu beliau memegang dua tangan kami terus mendorong hingga menempatkan kami di belakang”. H.r. Muslim
Bukankah Nabi saw. menempatkan kedua makmum itu persis di belakangnya?! klo yg jadi kendalanya ada kekosongan shaf, bukankah antar makmum bisa bergeser?! dan itu tdk melanggar... karena boleh bergerak dalam shalat jika jelas keperluannya?!
Sedangakn makmum (masbuk) menempatkan diri di sebelah kanan karena NAbi saw. suka yg kanan..hal itu terlalu umum? jika bisa...mengapa shaf pertama pun tdk di sebelah kanan?!

dalam hadits di atas siapakah yg prtama kali memulai shaf? Jabir atau Jabbar...
Rasulullah SAW memindahkan Jabir ke sebelah kanan beliau dan tidak ke belakang/tengah beliau. Maka hadits ini sesungguhnya sbgi dalil memulai shaf d sebelah kanan baik shaf pertama dan seterusnya...

Dari Al-Barra’ bin ’Azib radliyallaahu ’anhu ia berkata :

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أًحْبَبْنَا أَنْ نَكُوْنَ عَنْ يَمِيْنِهِ يُقْبَلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ رَبِّ قِنِيْ عَذَابكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ عِبَادَكَ

”Kami apabila shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam senang menempati shaff di sebelah kanan. Beliau kemudian menghadap ke arah kami dan bersabda : “Rabbi (Tuhanku), peliharalah diriku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan (mengumpulkan) ham-hamba-Mu” [HR. Muslim no. 709, Ibnu Majah no. 1006, dan Ibnu Khuzaimah no. 1563-1565. Ini adalah lafadh Muslim].[6]

Berikut ini fatwa Syekh Bin Baz
فتاوى ابن باز

تصفح برقم المجلد > المجلد السادس والعشرون > كتاب الحديث القسم الثاني > كتـاب الأحـاديـث الضـعيفـة > حديث من عمر مياسر الصفوف فله أجران

142 ـ حديث : من عمر مياسر الصفوف فله أجران

س: أقيمت صلاة العشاء واكتمل الجانب الأيمن من الصف الأول والجانب الأيسر فيه قليل في الناس ، فقلنا : اعدلوا الصف من اليسار ، فقال أحد المصلين : اليمين أفضل ، لكن أحد الناس عقب عليه وجاء بحديث : من عمر مياسر الصفوف
فله أجران أفتونا ما هو الصواب في هذه المسألة ؟ نشر في كتاب الدعوة ج1 ص60 ، ونشر في المجموع ج12 ص 207.

(الجزء رقم : 26، الصفحة رقم: 291)

ج : قد ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم ما يدل على أن يمين كل صف أفضل من يساره ، ولا يشرع أن يقال للناس : اعدلوا الصف ، ولا حرج أن يكون يمين الصف أكثر ، حرصا على تحصيل الفضل .

أما ما ذكره بعض الحاضرين من حديث : أخرجه ابن ماجه في كتاب إقامة الصلاة ، باب فضل ميمنة الصف برقم 1007. من عمر مياسر الصفوف فله أجران فهو حديث ضعيف خرجه ابن ماجه بإسناد ضعيف .

Soal : Pada waktu Shalat isya bagian kanan shaaf pertama sudah penuh dan sebelah kiri masih sedikit, maka diperintahkan pada kami "rapihkanlah sampai pertengahan sehingga yg kiri terisi" maka salah seorang jama'ah shalat berkata : "sebelah kanan adalah lebih utama". namun ada jama'ah lainnya membantah dengan mengemukakan hadits : "barangsiapa yg mengisi shaf sebelah kiri akan mendapat dua pahala." Manakah yang paling benar ?

Jawab : Nabi SAW telah menetapkan bahwa bagian kanan seluruh shaf adalah yang paling utama daripada bagian kiri. maka tidak disyari'atkan untuk menyuruh "ke bagian tengahkanlah shaf !" Tidak masalah jika bagian kanan shaf lebih banyak sebagai anjuran mendapat keutamaan.

Adapun yg dikemukakan oleh seorang jama'ah "yg kiri mendapat dua pahala" dikeluarkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Iqamatus shalat bab keutamaan shaf yg sebelah kanan No. 1007 adalah hadits dla'if dengan sanad dla'if.

http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=4&View=Page&PageNo=1&PageID=5182

Wallahu A'lam

MELURUSKAN DAN MERAPATKAN SHAF DALAM SHOLAT BERJAMAAH

Di antara syari'at yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada umatnya adalah meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat berjamaah. Barangsiapa yang melaksanakan syari'at, petunjuk dan ajaran-ajarannya dalam meluruskan dan merapatkan shaf, sungguh dia telah menunjukkan ittiba' nya [mengikuti] dan kecintaannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Adapun hadits-hadits yang memerintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf diantaranya sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

Artinya: "Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Rabb mereka ?" Maka kami berkata: "Wahai Rasulullah , bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka ?" Beliau menjawab : "Mereka menyempurnakan barisan-barisan [shaf-shaf], yang pertama kemudian [shaf] yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan"
[HR. Muslim, An Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah].

Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An Nu'man bin Basyir, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata:

Artinya: Dahulu Rasullullah meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau memandang kami telah paham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sampai shof kami telah rapi-pent), kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau bersabda: "Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian".
[HR. Muslim]

Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Anas ra., Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

Artinya: "Tegakkan [luruskan dan rapatkan, pent-] shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya aku melihat kalian dari balik punggungku"
[HR. Al Bukhari dan Muslim],

dan pada riwayat Al Bukhari, Anas r.a. berkata:

"Dan salah satu dari kami menempelkan bahunya pada bahu temannya dan kakinya pada kaki temannya"

sedangkan pada riwayat Abu Ya'la, berkata Anas:

"Dan jika engkau melakukan yang demikian itu pada hari ini, sungguh engkau akan melihat salah satu dari mereka seolah-olah seperti keledai liar yaitu dia akan lari darimu."

Dari hadits-hadits di atas menunjukkan betapa pentingnya meluruskan dan merapatkan shaf pada waktu shalat berjamaah karena hal tersebut termasuk kesempurnaan shalat sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

"Luruskan shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf termasuk kesempurnaan shalat".

Bahkan sampai ada sebagian ulama yang mewajibkan hal itu, sebagaimana perkataan Syeikh Al-Albani rahimahullah dalam mengomentari sabda nabi shallallahu 'alaihi wasallam : '... atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian': "Sesungguhnya ancaman semacam ini tidak dikatakan didalam perkara yang tidak diwajibkan, sebagaimana tidak samar lagi [pengertian seperti itu dikalangan ahli ilmu, pent-]". Akan tetapi sungguh amat sangat disayangkan, sunnah meluruskan dan merapatkan shaf ini telah diremehkan bahkan dilupakan kecuali oleh segelintir kaum muslimin.

Berkata Syeikh Masyhur Hasan Salman: "Apabila jamaah shalat tidak melaksanakan sebagaimana yang dilakukan oleh Anas dan An Nu'man maka akan selalu ada celah dan ketidaksempurnaan dalam shaf. Dan pada kenyataannya -kebanyakan- para jamaah shalat apabila mereka merapatkan shaf maka akan luaslah shaf [menampung banyak jamaah, pent-] khususnya shaf pertama kemudian yang kedua dan yang ketiga. Apabila mereka tidak melakukannya, maka:

Pertama: Mereka terjerumus dalam larangan syar'i, yaitu tidak meluruskan dan merapatkan shaf.

Kedua: Mereka meninggalkan celah untuk syaithan dan Allah akan memutuskan mereka, sebagaimana hadits dari Umar bin Al Khaththab bahwasanya Nabi bersabda:

"Tegakkan shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian dan tutuplah celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaithan, barangsiapa yang menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya dan barangsiapa memutus shaf niscaya Allah akan memutuskannya".
[HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim ]

Ketiga: Terjadi perselisihan dalam hati-hati mereka dan timbul banyak pertentangan di antara mereka, sebagaimana dalam hadits An Nu'man terdapat faedah yang menjadi terkenal dalam ilmu jiwa, yaitu: sesungguhnya rusaknya dhahir mempengaruhi rusaknya batin dan kebalikannya. Disamping itu bahwa sunnah meluruskan dan merapatkan shaf menunjukkan rasa persaudaraan dan saling tolong-menolong, sehingga bahu si miskin menempel dengan bahu si kaya dan kaki orang lemah merapat dengan kaki orang kuat, semuanya dalam satu barisan seperti bangunan yang kuat, saling menopang satu sama lainnya.

Keempat: Mereka kehilangan pahala yang besar yang dikhabarkan dalam hadits-hadits yang shahih, di antaranya sabda Nabi:

Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bershalawat kepada orang yang menyambung shaf".
[HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Hiban dan Ibnu Khuzaimah].

Dan sabda Nabi yang shahih:

"Barangsiapa menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya".
[HR.Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah]

Dan sabda Nabi yang lain:

Artinya: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling lembut bahunya (mau untuk ditempeli bahu saudaranya -pent) ketika shalat, dan tidak ada langkah yang lebih besar pahalanya daripada langkah yang dilakukan seseorang menuju celah pada shaf dan menutupinya".
[HR. Ath Thabrani, Al Bazzar dan Ibnu Hiban].

Keutamaan shaf pertama bagi laki-laki.

Diantara haditsnya adalah :

Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan, dan sejelek-jelek shaf laki-laki adalah yang laing belakang, sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling belakang, dan sejelek-jelek shaf perempuan adlaah yang paling depan.
(H.R. Muslim).

Kalaulah manusia mengetahui apa yang terdapat di azan dan shaf pertama (dari besarnya pahala-pent) kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali dengan diundi, maka pastilah mereka telah mengadakan undian, dan kalaulah mereka mengetahui apa yang terdapat di sikap selalu didepan, pastilah mereka telah mendahuluinya, dan kalaulah mereka mereka mengetahui apa yang terdapat di shalat isya dan shalat subuh (dari keuntungan) maka pastilah mereka mendatangi keduanya walaupun dengan merayab.
(Bukhari dan Muslim.)

Keutamaan mendapat takbiratul ihram bersama imam

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

Barangsiapa talah melakukan shalat karena Allah selama 40 hari berjama’ah, ia mendapatkan takbir pertama (takbiratul ihram dengan imam –pent), maka dicatatlah baginya dua kebebasan ; kebebasan dari api neraka dan kebebasan dari kemunafikan. (H.R. Tirmidzi dari Anas, dihasankan oleh Syeikh Al Albani di kitab shahih Al Jami’ II/1089).

Penegakan Tauhid, Pelurusan Aqidah, Pemberantasan Syirik dan Bid'ah
Posisi Shof Saat Berjama’ah Dua Orang

tinggalkan komentar »

“Lurus dan rapatkan shof” sambil memerintah makmum untuk sejajar dengannya (imam), namun si makmum berceloteh “masa ada dualisme kepemimpinan??” dengan memundurkan posisinya sehasta.

“Lurus dan rapatkan shof” sambil memerintah makmum untuk sejajar dengannya (imam), namun si makmum ragu untuk maju dan tetap dengan posisi kira-kira satu hasta dari ujung kaki makmum.

“Lurus dan rapatkan shof” sambil memerintah makmum untuk sejajar dengannya (imam), namun si makmum sedikit mundur satu hasta saat di rakaat berikutnya.

Kisah di atas merupakan kisah yang nyata, sungguh meluruskan shof dan merapatkannya kian ditinggalkan oleh umat Islam karena kurangnya ilmu yang justru menjadikan pelakunya membuat suatu opini yang sekali lagi justru menjadi salah kaprah karena melihatnya dari sisi dunia.

Maka coba perhatikan dan kaitkan sabda-sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam urusan meluruskan shof dan merapatkan shof:

سَوُّوا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاَةِ

“Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk bagian dari mendirikan shalat.” (H.R Al Bukhari)

اسْتَوُوْا وَلاَ تَخْتَلِفُوْا فَتَخْتَلِفُوْا قُلُوْبَكُمْ

“Luruskanlah shaf dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan hati kalian akan berselisih.” (H.R Muslim: 432)

سَوُّوا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ من تَمَامِ الصَّلاةِ

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk dari menyempurnakan shalat.” (H.R Muslim)

أَقِيْمُوْا الصُّفُوْفَ وَ حَاذُوْا بَيْنَ المَنَاكِبِ وَ سُدُّوْا الخَلَلَ ولِيْنُوْا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ وَلاَتَذَرُوْا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ, وَ مَنْ وَصَّلَ صَفًّا وَصَّلَهُ الله وَ مَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ الله

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, jadikanlah sejajar diantara bahu-bahu kalian, tutuplah celah yang kosong, bersikap lunaklah terhadap tangan saudara-saudara kalian dan jangan kalian meninggalkan sedikitpun celah-celah bagi syaithan. Barang siapa yang menyambung shaf maka Allah akan menyambungnya dan barang siapa yang memutuskan shaf maka Allah akan memutuskannya.” (H.R Abu Dawud no.666 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani)

Serta dalam cara mengisi shof dua orang berjamaah:

Apabila dua orang shalat berjama’ah dan salah seorang mengimami yang lainnya, maka posisi shaf adalah sejajar dengan menempelkan bahu dengan bahu mata kaki dengan mata kaki di antara keduanya. Sebagaimana hadits Ibnu Abbas رضالله عنه beliau berkata:

” بتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُوْنَةَ فَصَلَّى رَسولُ الله العِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ فَصَلّى أَرْبَعَ رَكَعاَتٍ ثُمَّ ناَمَ ثُمَّ قاَمَ فَجِئْتُ (وَفِي رِوَايَة : فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ) عَنْ يسَارِهِ فَجَعَلَنِيْ عَنْ يَمِيْنِهِ”

“Aku bermalam dirumah bibiku (yaitu) Maimunah, ketika itu Rasulullah shalat isya’ kemudian beliau pulang ke rumah dan shalat empat rakaat, kemudian tidur. Setelah itu beliau bangun untuk shalat maka aku pun berdiri disamping kirinya kemudian beliau memindahkan aku ke samping kanannya”. (H.R Al Bukhari no.697)

Al Imam Al Bukhari menjadikan hadits diatas sebagai dalil bahwa posisi dua orang yang shalat berjama’ah adalah sejajar. Al Hafizh Ibnu Hajar menerangkan bahwa makna sejajar yaitu tidak maju dan tidak mundur, berdasarkan konteks dhohir hadits Ibnu Abbas: فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ)). (Lihat Fathul Bari hadits no. 697)

Adapun hadits yang mengkhabarkan bahwa Rasulullah pernah melihat seseorang shalat sendirian dibelakang shaf, maka beliau memerintahkan dia untuk mengulangi shalatnya. (H.R Abu Dawud dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albany dalam shahih Abu Dawud no.633)

Larangan hadits ini berlaku bagi mereka yang mendapatkan shaf dalam keadaan lowong dan masih ada kemungkinan untuk masuk padanya. Sementara bagi mereka yang tidak menjumpai celah yang kosong sama sekali pada shaf, maka dia boleh shalat sendirian dibelakang karena termasuk orang yang mendapatkan udzur (keringanan). Dan tidak diperbolehkan baginya untuk menarik seseorang yang ada di shaf depannya dalam rangka mengamalkan hadits yang diriwayatkan oleh Ath Thabrani :

إِذَا انْتَهَى أَحُدُكُمْ إِلَى الصَّفِ وَقَدْ تَمَّ فَلْيَجْذِبْ إِلَيْهِ رَجُلاً يُقِيِمُه إِلَىجَنْبِهِ

“Bila seseorang diantara kalian mendapati shaf yang telah sempurna, maka hendaklah dia menarik seseorang hingga berdiri disebelahnya.” Karena Hadits ini adalah dha’if (lemah) sehingga tidak boleh dijadikan sandaran dalam beramal. (lihat Silsilah Adh Dha’ifah no. 921 karya Asy Syaikh Al Albani)

Akhir dari tulisan ini, penulis berharap semoga tulisan ini bermanfaat dan semoga shof-shof sholat berjamaah di masjid-masjid bisa lebih rapi yaitu lurus dan rapat.

disalin dari beberapa sumber salah satunya di http://www.assalafy.org/mahad/?p=112


رقم الحديث: 7975
(حديث مرفوع) حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ ، نَا حَفْصُ بْنُ عَمْرٍو الرَّبَالِيُّ ، نَا بِشْرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ ، حَدَّثَنِي الْحَجَّاجُ بْنُ حَسَّانَ ، عَنْ عِكْرِمَةَ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الصَّفِّ وَقَدْ تَمَّ ، فَلْيَجْذِبْ إِلَيْهِ رَجُلا يُقِيمُهُ إِلَى جَنْبِهِ " . لا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلا بِهَذَا الإِسْنَادِ ، تَفَرَّدَ بِهِ : بِشْرُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ .

الحكم المبدئي: إسناد فيه بشر بن إبراهيم الأنصاري وهو يضع الحديث.

# العالم القول
1 أبو أحمد بن عدي الجرجاني منكر الحديث عن الثقات والأئمة، لا أدري كيف عقل من تكلم في الرجال عنه فإني لم أجد له كلاما وهو بين الضعف جدا ورواياته التي يرويها عمن يروي غير محفوظة وهو عندي ممن يضع الحديث على الثقات، وما ذكرته عنه عن الأوزاعي وثور بن يزيد ومبارك بن فضالة وأبو حرة وغيرهم
2 أبو جعفر العقيلي روى أحاديث موضوعة عن الأوزاعي لا يتابع عليها
3 أبو حاتم الرازي شيخ ضعيف الحديث
4 أبو حاتم بن حبان البستي يضع الحديث على الثقات لا يحل ذكره في الكتب إلا على سبيل القدح فيه


رقم الحديث: 1452
(حديث مرفوع) نا بُنْدَارٌ ، نا أَبُو بَكْرٍ يَعْنِي الْحَنَفِيَّ ، نا الضَّحَّاكُ بْنُ عُثْمَانَ ، حَدَّثَنِي شُرَحْبِيلُ وَهُوَ ابْنُ سَعْدٍ أَبُو سَعْدٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ ، يَقُولُ : " قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي الْمَغْرِبَ ، فَجِئْتُهُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ عَنْ يَسَارِهِ ، فَنَهَانِي فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ ، ثُمَّ جَاءَ صَاحِبٌ لِي ، فَصَفَفْنَا خَلْفَهُ ، فَصَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ مُخَالِفًا بَيْنَ طَرَفَيْهِ " .

الحكم المبدئي: إسناد ضعيف فيه شرحبيل بن سعد الخطمي وهو ضعيف الحديث.

البحــث عن: جاء صاحب لي فصففنا
يوجد 2 حديث
السابق
صفحة |

| من 1
التالي
م طرف الحديث الصحابي اسم الكتاب أفق العزو المصنف سنة الوفاة
1 يصلي المغرب فجئت فقمت إلى جنبه عن يساره فنهاني فجعلني عن يمينه ثم جاء صاحب لي فصففنا خلفه فصلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في ثوب واحد مخالفا بين طرفيه
جابر بن عبد الله مسند أحمد بن حنبل 14204 14087 أحمد بن حنبل 241
2 يصلي المغرب فجئته فقمت إلى جنبه عن يساره فنهاني فجعلني عن يمينه ثم جاء صاحب لي فصففنا خلفه فصلى بنا رسول الله صلى الله عليه وسلم في ثوب واحد مخالفا بين طرفيه
جابر بن عبد الله صحيح ابن خزيمة 1452 1448 ابن خزيمة 311



Hukum Seputar Shaff dalam Shalat Berjama'ah
Abu Al-Jauzaa' :, 01 Juli 2008
Oleh : Abu Al-Jauzaa’ Al-Bogory
Menyusun shaff
Hadits dari Abu Mas’ud, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam diriwayatkan bahwa beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لِيَلِنِيْ مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلامِ وَالنُّهَى ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ
“Hendaklah yang ada di belakangku (shaf pertama bagian tengah belakang imam) adalah kalangan orang dewasa yang berilmu. Kemudian diikuti oleh mereka yang lebih rendah keilmuannya. Kemudian diikuti lagi oleh kalangan yang lebih rendah keilmuannya” [HR. Muslim no. 432].
Hadits ini mengandung faedah bahwa menyusun shaf sesuai dengan urutan keutamaan di belakang imam. Hendaknya di belakang imam adalah orang-orang yang lebih faqih di bidang agama dan lebih bagus hafalan/bacaannya dalam Al-Qur’an dibandingkan yang lain; sebagaimana imam dipilih berdasarkan yang demikian[1]. Hal tersebut mengandung hikmah bahwa bila sewaktu-waktu imam lupa/salah dalam bacaan Al-Qur’an, makmum dapat mengingatkannya. Atau sewaktu-waktu imam ada udzur syar’i (misal batal, sakit, dan lain-lain) sehingga imam tidak bisa meneruskan shalatnya, maka orang yang di belakangnyalah yang akan maju menggantikan dan meneruskan imam sebelumnya memimpin shalat berjama’ah.[2]
Meluruskan dan merapatkan shaff
1. Hadist An-Nu’man bin Basyir radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :
كَانَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم يُسَوِّيْ صُفُوْفَنَا حَتَّى كَأَنَّمَا يُسَوِّيْ بِهَا الْقِدَاحَ حَتَّى رَأَى أَنَّا قَدْ عَقَلْنَا عَنْهُ ثُمَّ خَرَجَ يَوْماً فَقَامَ حَتَّى كَادَ يُكَبِّرُ فَرَأَى رَجُلاً بَادِياً صَدْرَهُ مِنَ الصَّفِّ فَقَالَ عِبَادَ اللهِ لَتُسَوُنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ
Adalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam meluruskan shaf-shaf kami (para shahabat) seolah-olah beliau meluruskan ‘qadah’ [3] sehingga beliau yakin bahwa kami telah menyadari kewajiban kami (untuk meluruskan shaf). Suatu hari, ketika beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam sudah hendak takbir, tiba-tiba beliau melihat salah seorang diantara kami membusungkan dadanya ke depan melebihi shaf. Maka beliau bersabda : “Hendaknya kalian meluruskan shaf-shaf kalian, kalau tidak Allah akan menjadikan wajah-wajah kalian saling berselisih” [HR. Muslim no. 436].
2. Hadits Anas bin Malik, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasalam :
سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوْفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاةِ. (وَفِيْ لَفْظٍ : فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاةِ)
“Luruskan shaf-shaf kalian, karena meluruskan shaf-shaf termasuk menegakkan shalat (berjama’ah)”. Dan dalam lafadh lain : “…karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat (berjama’ah)” [HR. Bukhari no. 690 dan Muslim no. 433].
3. Hadits An-Nu’man bin Basyir radliyallaahu ‘anhu ia berkata :
أَقْبَلَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ أَقِيْمُوْا صُفُوْفَكُمْ ثَلاثاً وَاللهِ لَتُقِيْمُنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ قَالَ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ
Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wasallam pernah menghadap ke arah jama’ah shalat dan bersabda : “Tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian, tegakkanlah shaf kalian. Demi Allah, bila kalian tidak menegakkan shaf kalian, maka Allah akan mencerai-beraikan hati kalian”. An-Nu’man berkata : “Aku saksikan sendiri, masing-masing diantara kami saling menempelkan bahunya dengan bahu temannya, lututnya dengan lutut temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya” [HR. Abu Dawud no. 662 dengan sanad shahih].
4. Atsar dari Nafi’ Maula Ibni ‘Umar bahwasannya ia menceritakan :
كان عمر يبعث رجلا يقوم الصفوف ثم لا يكبر حتى يأتيه فيخبره أن الصفوف قد اعتدلت
”Adalah ’Umar (bin Al-Khaththab) radliyallaahu ’anhu menugaskan seseorang untuk mengatur shaff-shaff. Tidaklah ’Umar mulai bertakbir hingga ia (orang yang ditugaskan tersebut) kembali dan mengkhabarkan bahwasannya shaff-shaff telah lurus” [Diriwayatkan oleh ’Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf no. 2437 dan 2439].
Hadits di atas mengandung faedah diantaranya :
• Disunnahkannya meluruskan shaff dalam shalat berjama’ah, bahkan banyak di antara ulama yang mengatakannya wajib. Hendaknya para jama’ah benar-benar memperhatikannya dengan memperhatikan kanan kirinya, mengatur diri, dan saling mengingatkan jama’ah lain, sehingga shaf dapat menjadi benar-benar lurus dari awal sampai akhir shalat.
• Termasuk kesempurnaan shaff shalat berjama’ah adalah dengan merapatkannya dengan tidak membiarkan ruang-ruang yang longgar/sela antar jama’ah. Caranya adalah dengan menempelkan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki antar jama’ah/makmum sebagaimana hadits Nu’man bin Basyir di atas. Jangan ada perasaan risih karena tertempelnya badan saudara kita dengan badan kita. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
خِيَارُكُمْ أَلْيَنُكُمْ مَنَاكِبَ فِي الصَّلاةِ
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempunyai bahu paling lembut di dalam shalat” [HR. Abu Dawud no. 623; shahih lighairihi].
Maksud hadits ini adalah bahwa salah satu katagori orang yang paling baik adalah orang yang ketika berada di dalam shaff, kemudian ada orang lain yang memegang bahunya untuk menyempurnakan (merapatkan dan meluruskan) shaff, ia akan tunduk dengan hati yang ikhlash lagi lapang tanpa ada pembangkangan [lihat selengkapnya dalam Badzlul-Majhuud 4/338 dan Ma’alimus-Sunan 1/184].
• Hendaknya imam memperhatikan keadaan para jama’ahnya dengan selalu mengingatkan agar shaff selalu lurus dan rapat. Menjadi satu “keharusan” bagi seorang imam sebelum memulai shalat untuk mengatur shaff jama’ah. Tidak cukup bagi imam hanya mengatakan [sawwuu shufuufakum dst. “سَوُّوْا صُفُوْفَكُمْ......]. Tapi harus diikuti dengan mengingatkan dan memeriksa keadaan shaf jama’ahnya sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Imam bertanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya (yaitu jama’ah/makmum). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ اَلْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap dari kamu adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Dan seorang imam adalah pemimpin dan ia akan ditanya tentang kepemimpinannya” [HR. Bukhari no. 853].
• Bolehnya seorang imam menugaskan seseorang atau lebih untuk mengatur shaff-shaff shalat agar lurus dan rapat.
Sangat dianjurkan menyambung shaff dan mengisi shaff yang lowong.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ الصُّفُوْفَ وَمَنْ سَدَّ فُرْجَةً رَفَعَهُ اللهُ بِهَا دَرَجَةً
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya selalu mendoakan orang-orang yang menyambung shaf-shaf dalam shalat. Siapa saja yang mengisi bagian shaff yang lowong, akan diangkat derajatnya oleh Allah satu tingkat” [HR. Ibnu Majah no. 995; shahih lighairihi].
Termasuk hal yang diperbolehkan dalam hal ini adalah seorang makmum maju mengisi shaff yang lowong/kosong yang ada di depannya (yang mungkin disebabkan makmum yang ada di shaff di depannya batal meninggalkan shaff) ketika shalat berjama’ah sedang berlangsung.[4]
Shaff pertama adalah shaff yang paling baik
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا ...
“Seandainya manusia mengetahui pahala dari adzan dan shalat jama’ah di shaff pertama, dan itu hanya bisa mereka dapatkan dengan berundi, maka pasti mereka berundi” [HR. Bukhari no. 615 dan Muslim no. 437].
خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik shaff bagi laki-laki adalah yang paling depan, dan yang paling jelek adalah yang paling belakang. Adapun sebaik-baik shaff bagi wanita adalah yang paling belakang, dan yang paling jelek adalah yang paling depan” [HR. Muslim no. 440] [5]
Shaff bagian kanan lebih afdlal daripada shaff sebelah kiri.
Point ini khusus ditujukan bagi makmum secara umum yang bukan termasuk jajaran orang-orang yang lebih berhak menempati posisi di belakang imam (yaitu makmum dari kalangan ’alim dan faqih) sebagaimana dibahas di point 1.
Dari Al-Barra’ bin ’Azib radliyallaahu ’anhu ia berkata :
كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أًحْبَبْنَا أَنْ نَكُوْنَ عَنْ يَمِيْنِهِ يُقْبَلُ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ قَالَ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ رَبِّ قِنِيْ عَذَابكَ يَوْمَ تَبْعَثُ أَوْ تَجْمَعُ عِبَادَكَ
”Kami apabila shalat di belakang Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam senang menempati shaff di sebelah kanan. Beliau kemudian menghadap ke arah kami dan bersabda : “Rabbi (Tuhanku), peliharalah diriku dari siksa-Mu pada hari Engkau membangkitkan (mengumpulkan) ham-hamba-Mu” [HR. Muslim no. 709, Ibnu Majah no. 1006, dan Ibnu Khuzaimah no. 1563-1565. Ini adalah lafadh Muslim].[6]
Berdirinya makmum sendirian di belakang shaff dapat menyebabkan shalatnya (si makmum tersebut) tidak sah.
Dari Hadits Ali bin Syaiban radliyallaahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang laki-laki shalat bermakmum di belakang shaf, maka beliau berhenti sampai laki-laki itu selesai shalat. Selanjutnya beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :
اسْتَقْبِلْ صَلاتَكَ فَلا صَلاةَ لِرَجُلٍ فَرْدٍ خَلْفَ الصَّفِّ
“Ulangi kembali shalatmu. Tidak sah shalat seorang yang yang bermakmum sendirian di belakang shaf” [HR. Ahmad 4/23 no. 16340 dan Ibnu Majah no. 1003; dengan sanad shahih].
Para ulama berbeda pendapat tentang permasalahan ini. Namun yang rajih, insya allah, adalah pendapat yang mengatakan : “shalat tersebut tidak sah tanpa adanya udzur syar’i”. Maksudnya : Bila shaff di depannya masih longgar atau tidak rapat sehingga masih memungkinkan baginya masuk mengisi di shaff tersebut; namun dia malah memilih berdiri sendirian di belakang shaf tersebut, maka shalatnya tidak sah. Namun bila shaf di depannya telah penuh dan rapat sehingga tidak mungkin dia masuk mengisi di antara shaf-shaf tersebut, maka shalatnya tetap sah. Wallaahu a’lam. [7]
Orang yang bermakmum sendirian berada sejajar satu shaff dengan imam.
Dari ’Abdullah bin ’Abbas radliyallaahu ’anhuma ia berkata :
بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَهَا فِي لَيْلَتِهَا فَصَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ إلى مَنْزِلِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍِ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ ثُمَّ قَالَ نَامَ الْغُلَيِّمُ أَوْ كَلِمَةٌُ تُشْبِهُهَا ثُمَّ قَامَ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِيْنِهِ فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيْطَهُ أَوْ خَطِيْطَهُ ثُمَّ خَرَجَ إِلى الصَّلاةِ
”Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah bin Al-Harits, istri Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam; dan ketika itu beliau berada di rumah bibi saya itu. Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat ‘Isya’ (di masjid), kemudian beliau pulang, lalu beliau mengerjakan shalat sunnah empat raka’at. Setelah itu beliau tidur, lalu beliau bangun dan bertanya : “Apakah anak laki-laki itu (Ibnu ‘Abbas) sudah tidur ?” atau beliau mengucapkan kalimat yang semakna dengan itu. Kemudian beliau berdiri untuk melakukan shalat, lalu aku berdiri di sebelah kiri beliau untuk bermakmum. Akan tetapi kemudian beliau menjadikanku berposisi di sebelah kanan beliau. Beliau shalat lima raka’at, kemudian shalat lagi dua raka’at, kemudian beliau tidur. Aku mendengar suara dengkurannya yang samar-samar. Tidak berapa lama kemudian beliau bangun, lalu pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat shubuh” [HR. Bukhari no. 117, Muslim no. 763].
Muhammad bin Isma’il Ash-Shan’ani berkata : ”Kemudian perkataan Ibnu ‘Abbas : “Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam menjadikanku (berposisi) di sebelah kanan beliau” jelas menunjukkan bahwa ia (Ibnu ‘Abbas) berdiri sejajar dengan beliau. Dan dalam lafadh yang lain disebutkan (فقمت إلى جنبه) = “Aku berdiri di samping beliau”. Dari sebagian shahabat Asy-Syafi’i menyukai/menganjurkan agar makmum berdiri sedikit di belakang (dari imam). Akan tetapi (hal itu terbantah) bahwasannya Ibnu Juraij telah meriwayatkan/berkata : Kami bertanya kepada ‘Atha’ : Seorang laki-laki shalat (berjama’ah) bersama seorang laki-laki (imam). Dimanakah posisi ia berdiri dari imam tersebut ?”. ‘Atha’ menjawab : “Di sebelahnya”. Aku berkata : “Apakah ia berdiri sejajar dengan imam sehingga berbaris ( = sebaris dengan imam), sehingga tidak ada selisih antara imam dan makmum ?”. ‘Atha’ menjawab lagi : “Ya”. Aku berkata : “Apakah tempatnya tidak jauh sehingga tidak ada selang antara keduanya ?”. Beliau menjawab : “Ya”. Riwayat serupa (juga terdapat) dalam Al-Muwaththa’ dari ‘Umar dari hadits Ibnu Mas’ud bahwasannya Ibnu Mas’ud satu shaff dengan ‘Umar dan ‘Umar menjadikan dia sejajar dengan ‘Umar di sebelah kanannya. [Subulus-Salaam 2/44]. [8]
Menghindari tiang atau sesuatu lain dalam shaff (yang akan memutus kebersambungan shaff).
Dari Mu’awiyyah bin Qurrah dari bapaknya radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :
كُنَّا نُنْهَى أَنْ نَصُفَّ بَيْنَ السَّوَارِيْ عَلَى عَهْدِ رَسوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَنُطْرَدُ عَنْهَا طَرْداً
“Kami dilarang untuk berbaris di antara tiang-tiang di jaman Rasulullah dan kami menyingkir darinya” (HR. Ibnu Majah no. 1002, Ibnu Khuzaimah no. 1567, dan Ibnu Hibban no. 2219; dengan sanad shahih).
Dari Abdul Hamid bin Mahmud berkata :
صَلَّيْتُ مَعَ أَنَسِ بْنِ مَالِكِ يَوْمَ الْجُمْعَةِ فَدُفِعْنَا إِلَى السَّوَارِيْ فَتَقَدَّمْنَا وَتَأَخَّرْنَا فَقَالَ أَنَس كُنَّا نَتَّقِي هَذَا عَلَى عَهْدِ رَسوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم
“Aku shalat bersama Anas bin Malik, dan kami terdesak (berbaris) pada tiang-tiang masjid. Sebagian di antara kami ada yang maju dan ada pula yang mundur. Maka Anas berkata : ‘Kami menghindari ini di jaman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam” (HR. Abu Dawud no. 673, Ibnu Khuzaimah no. 1568, Ibnu Hibban no. 2218, dan lain-lain; dengan sanad shahih).
Hadits di atas menunjukkan bahwa shaff sebaiknya menghindari jalur yang ada tiangnya, karena hal itu dapat memutuskan shaff. Hal ini dilakukan apabila memungkinkan, yaitu masjidnya luas. Namun apabila sempit, maka tidak mengapa insya Allah.
***
Marilah kita membiasakan diri dan ‘memakmurkan’ sunnah-sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Sebagai penutup bahasan, apa yang menjadi maksud penulisan risalah singkat ini adalah sebagaimana dikatakan Nabi Hud dalam Al-Qur’an :
إِنْ أُرِيدُ إِلاّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِيَ إِلاّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ
“Aku tidak bermaksud (kecuali) mendatangkan perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali” [QS. Huud : 88].
Semoga bermanfaat. Wallaahu a’lam.
Catatan kaki :
[1] Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam telah bersabda :
”يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله فإن كانوا في القراءة سواء فأعلمهم بالسنة، فإن كانوا في السنة سواءً فأقدمهم هجرة، فإن كانوا في الهجرة سواءً فأقدمهم سلماً – وفي رواية - سنّاً ولا يؤمّنَّ الرَّجلُ الرَّجلَ في سلطانه ولا يقعد في بيته على تكْرِمَتِه إلا بإذنه“. وفي لفظ: ”يؤم القوم أقرؤهم لكتاب الله وأقدمهم قراءة، فإن كانت قراءتهم سواءً...“
”Yang berhak mengimami shalat adalah orang yang paling bagus atau paling banyak hafalan Al-Qur’annya. Kalau dalam Al-Qur’an kemampuannya sama, dipilih yang paling mengerti tentang Sunnah. Kalau dalam Sunnah juga sama, maka dipilih yang lebih dahulu berhijrah. Kalau dalam berhijrah sama, dipilih yang lebih dahulu masuk Islam”. Dalam riwayat lain : ”.....yang paling tua usianya”. Janganlah seseorang mengimami orang lain dalam wilayah kekuasannya, dan janganlah ia duduk di rumah orang lain di tempat duduk khusus/kehormatan untuk tuan rumah tersebut tanpa ijin darinya”.
Dan dalam lafadh yang lain : ”Satu kaum diimami oleh orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an di antara mereka dan yang paling berpengalaman membacanya. Kalau bacaan mereka sama.... (sama seperti lafadh sebelumnya)". [HR. Muslim no. 673].
[2] Caranya adalah : Imam yang udzur atau batal shalatnya tersebut memegang tangan salah seorang makmum di belakangnya yang menurutnya pantas untuk maju menggantikannya sebagai imam shalat. Dasarnya adalah atsar ‘Amru bin Maimun yang menceritakan :
إني لقائم ما بيني بينه (عمر بن الخطاب) إلا عبد الله بن عباس غداة أصيب ،...... فما هو إلا أن كبَّر فسمعته يقول: قتلني أو أكلني الكلب حين طعنه،.... وتناول عمر يد عبد الرحمن بن عوف فقدَّمه،..... فصلى بهم عبد الرحمن صلاة خفيفة
”Aku ketika itu sedang berdiri, sementara antara aku dengannya (yaitu ’Umar bin Al-Khaththab) hanya ada ’Abdullah bin ’Abbas - pada hari ketika beliau tertikam. Saat itu ’Umar hanya bertakbir dan aku mendengarnya berkata : ”Aku dibunuh atau aku dimakan oleh anjing” ; yaitu ketika beliau tertikam. ’Umar segera memegang tangan ’Abdurrahman bin ’Auf dan mengajukannya sebagai imam. ’Abdurrahman langsung shalat mengimami jama’ah secara ringkas” [HR. Bukhari no. 3497 dengan peringkasan].
Asy-Syaukani menjelaskan : ”Dalam hal itu ada indikasi yang membolehkan seorang imam mengambil pengganti ketika ia berhalangan sehingga tindakan itu harus diambil. Karena para shahabat membenarkan tindakan ’Umar dan tidak ada yang menyalahkannya, sehingga menjadi ijma’. Demikian juga tindakan serupa dilakukan oleh ’Ali dan para shahabat juga membenarkannya” [Nailul-Authaar 2/416].
[3] Kayu untuk anak panah ketika dipahat dan diasah menjadi anak panah.
[4] Dalilnya adalah hadits Sahl bin Sa’d As-Saa’idy radliyallaahu ‘anhu :
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ذهب إلى بني عمرو بن عوف ليصلح بينهم فحانت الصلاة فجاء المؤذن إلى أبي بكر فقال أتصلي بالناس فأقيم قال نعم قال فصلى أبو بكر فجاء رسول الله صلى الله عليه وسلم والناس في الصلاة فتخلص حتى وقف في الصف فصفق الناس وكان أبو بكر لا يلتفت في الصلاة فلما أكثر الناس التصفيق التفت فرأى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأشار إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أن امكث مكانك فرفع أبو بكر يديه فحمد الله عز وجل على ما أمره به رسول الله صلى الله عليه وسلم من ذلك ثم استأخر أبو بكر حتى استوى في الصف وتقدم النبي صلى الله عليه وسلم فصلى ثم انصرف فقال يا أبا بكر ما منعك أن تثبت إذ أمرتك قال أبو بكر ما كان لابن أبي قحافة أن يصلي بين يدي رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم مالي رأيتكم أكثرتم التصفيق من نابه شيء في صلاته فليسبح فإنه إذا سبح التفت إليه وإنما التصفيح للنساء
Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam pernah pergi ke Bani ‘Amru bin ‘Auf untuk mendamaikan mereka. Datanglah waktu shalat, lalu muadzin datang menemui Abu Bakr radliyallaahu ‘anhu dan berkata : “Maukah engkau shalat bersama manusia (dan menjadi imam) ? Akan aku kumandangkan iqamat sekarang”. Abu Bakr menjawab : “Ya”. Maka Abu Bakr pun shalat (dan menjadi imam bagi mereka). Datanglah Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam ketika manusia sedang menunaikan shalatnya. Beliau mengendap ke depan hingga masuk ke shaff makmum. Para makmum pun bertepuk tangan memberi isyarat, namun Abu Bakr tidak menoleh sedikitpun dalam shalatnya. Ketika semakin banyak makmum yang bertepuk tangan, Abu Bakr pun akhirnya menoleh dan melihat Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam. Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam memberikan isyarat kepadanya agar tetap diam di tempatnya (menjadi imam shalat). Abu Bakr mengangkat kedua tangannya, bertahmid kepada Allah ’azza wa jalla atas perintah Rasulullah kepada dirinya tersebut. Namun ia tetap mundur dan masuk ke dalam shaff makmum (yang ada di belakangnya). Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam pun maju menjadi imam. Ketika selesai, beliau bersabda : ”Wahai Abu Bakr, apa yang menghalangimu untuk tetap berada di tempatmu sebagaimana aku perintahkan ?”. Abu Bakr menjawab : ”Tidaklah pantas bagi seorang anak Abu Quhafah shalat di depan Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam” [HR. Bukhari no. 652 dan Muslim no. 421].
Hadits di atas menunjukkan bolehnya seorang imam atau makmum untuk maju atau mundur dari shaff karena satu sebab/keperluan dalam shalat.
[5] Shaff paling baik bagi wanita adalah yang paling belakang ini berlaku ketika jama’ah bercampur antara laki-laki dan perempuan. Namun jika jama’ah hanya terdiri dari kaum wanita saja, maka shaff yang paling baik adalah yang terdepan sebagaimana keumuman hadits sebelumnya. Wallaahu a’lam.
[6] Tanbih !! Termasuk kesalahan imam adalah ketika ia memerintahkan makmum untuk menyeimbangkan antara shaff yang sebelah kanan dengan shaff sebelah kiri ketika ia melihat para jama’ah lebih memilih shaff sebelah kanan. Samahatusy-Syaikh ’Abdul-’Aziz bin Baaz mengatakan :
قد ثبت عن النبي ما يدل على أن يمين كل صفّ ، أفضل من يساره ، ولا يشرع أن يقال للناس : [اعدلوا الصف] ولا حرج أن يكون يمين الصف أكثر ، حرصاً على تحصيل الفضل . أما ما ذكره بعضهم من حديث : ((مَنْ عمر مياسر الصفوف ، فله أجران)) فلا أعلم له أصلاً !! و الأظهر أنه موضوع ، وضعه بعض الكسالى الذين لا يحرصون على يمين الصف ، أو لا يسابقون إليه ، والله الهادي إلى سواء السبيل
”Telah tetap dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam yang menunjukkan bahwasannya shaff di sebelah kanan itu lebih afdlal (utama) dibandingkan sebelah kiri. Tidaklah disyari’atkan (bagi imam) untuk mengatakan kepada makmum : ”Seimbangkanlah shaff”. Tidaklah mengapa jika makmum yang berada di sebelah kanan shaff itu lebih banyak (dibandingkan sebelah kiri) karena menginginkan keutamaannya. Adapun yang disebutkan oleh sebagian orang tentang hadits : ”Barangsiapa yang mengisi shaff sebelah kiri, maka baginya dua pahala” . Aku tidak mengetahui darimana hadits ini berasal. Bahkan hadits itu adalah hadits palsu, yang dipalsukan oleh sebagian orang-orang yang malas yang tidak bersemangat atau bergegas mengisi shaff sebelah kanan. Hanya Allah sajalah yang menunjukkan jalan yang benar” [Al-Fataawaa 1/61].
[7] Sebagai rujukan untuk muraja’ah, dapat dilihat kitab-kitab sebagai berikut : Al-Mughni (Ibnu Qudamah) 3/49, Nailul-Authar (Asy-Syaukani) 2/429, Asy-Syarhul-Mumti’ (Al-‘Utsaimin), dan yang lainnya.
[8] Hal ini berlaku pada shalat wajib dan shalat sunnah secara umum yang antara makmum dan imam sejenis (laki-laki semua atau wanita semua). Adapun jika imamnya laki-laki dan makmumnya wanita, maka posisinya tetap sebagaimana biasa, yaitu imam di depan dan makmum di belakang.
Kaifiyah ini dikecualikan untuk shalat jenazah berjama’ah. Imam tetap berada di depan makmum, berapapun jumlah makmum. Hal itu didasari oleh hadits ‘Abdullah bin Abi Thalhah disebutkan :
أن أبا طلحة دعا رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى عمير بن أبي طلحة حين توفي فأتاه رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى عليه في منزلهم ، فتقدم رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وكان أبو طلحة وراءه وأم سليم وراء أبي طلحة ، ولم يكن معهم غيرهم
“Bahwasannya Abu Thalhah pernah mengundang Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mendatangi ‘Umair bin Abi Thalhah pada saat itu ia meninggal dunia. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam datang menshalatkannya di tempat tinggal mereka. Beliau shallallaahu ‘alaihi wasallam maju sedang Abu Thalhah di belakang beliau serta Ummu Sulaim di belakang Abu Thalhah. Dan tidak ada orang lain lagi bersama mereka” [HR. Hakim 1/365, Baihaqi 4/30 dan 31. Al-Hakim berkata : “Hadits ini shahih sesuai syarat Asy-Syaikhaan”. Pernyataan ini disepakati oleh Adz-Dzahabi. Akan tetapi perkataan Al-Hakim itu dibantah oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ahkaamul-Janaaiz yang mengatakan : Hadits itu shahih hanya berdasarkan syarat Muslim saja].

#
Bila makmum masbuq lebih dari 1 orang dan imam utama
[rowatib] telah salam. Yang shahih apakah makmum tersebut menyempurnakan
sendiri2 atau membuat jamaah lagi dengan mengangkat salah satu makmum
menjadi imam? Begitu seterusnya.

Alhamdulillah
Tidak ada keterangan kalau masbuq lebih dari satu, jika imam sudah salam,
mangangkat salah satu dari mereka (makmum tersebut) untuk menjadi imam.
***(Masbuk melanjutkan jama'ah kedua, ketiga dst..)

Yang ada keterangannya dengan jelas, adalah apabila kita mendapatkan satu
raka'at bersama imam berarti dia telah mendapatkan shalat jama'ah, maksudnya
adalah : Apabila kita masbuq pada raka'at ke 2 atau ke 3, maka kita telah
mendapatkan pahala shalat jama'ah, sedangkan kekurangannya, kita
sempurnakan. Wallahu a'lam

Seperti penjelasan dibawah ini, yang di copy dari http://www.almanhaj.or.id/

Dalilnya adalah sebagai berikut.

[1]. Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.

"Artinya : Barangsiapa mendapati satu raka'at bersama imam berarti ia telah
mendapati shalat jama'ah" [Muttafaqun 'Alaihi]

[2]. Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma dari Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda.

"Artinya : Barangsiapa mendapati satu raka'at shalat Jum'at atau shalat
jama'ah lainnya berarti ia telah mendapati shalat berjama'ah" [Sunan Ibnu
Majah I/202 no. 1110]

Kedua hadits diatas secara jelas menyatakan bahwa siapa saja yang mendapati
satu rakaat shalat Jum'at maupun shalat lainnya bersama imam berarti ia
telah mendapati shalat jama'ah. Shalat jama'ah termasuk dalam rangkaian
shalat yang hanya dikatakan mendapatinya bila telah mendapati satu raka'at.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bawha beliau bersabda.

"Artinya : Jika shalat telah ditegakkan maka janganlah kamu mendatanginya
dengan tergesa-gesa. Berjalanlah dengan tenang dan kerjakanlah apa yang kamu
dapati bersama imam serta sempurnakanlah apa yang terluput darinya" [Shahih
Muslim I/420 no. 602]

http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=1890&bagian=0


KEDUDUKAN SESEORANG YANG MENDAPATI AKHIR RAKAAT DALAM SHALAT JAMA'AH

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
http://www.almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=2070&bagian=0

Pertanyaan
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : Seseorang mendapati jama'ah
isya pada akhir raka'at. Kemudian ia menyempurnakan kekurangannya yang tiga
rakaat. Apakah yang tiga rakaat ini disebut melengkapi kekurangan atau
disebut qadha'? Dan apakah tiga rakaat itu dibaca secara jahar/keras ?

Jawaban
Ulama dalam masalah ini, terdapat dua pendapat.

Pendapat Pertama.
Bahwa masbuq (orang yang ketinggalan shalat jamaah), ketika dia
menyempurnakan kekurangan shalatnya berarti ia meng-qadha' (mengulangi)
rakaat yang terluput, dan yang ia qadha itu, dianggap sebagai awal shalatnya
(rakaat pertama, kedua dst), ini adalah madzhab Hanafiyyah (pengikut Abu
Hanifah).

Pendapat Kedua
Bahwa yang didapati oleh seoran masbuq bersama imam adalah awal shalatnya,
sedangkan sisa raka'at yang ia kerjakan setalah imam salam, adalah merupakan
rakaat berikutnya (bukan rakaat pertama, kedua dst).

Sebab perselisihan ini adalah adanya dua riwayat yang telah cukup terkenal.

"Artinya : Apa yang kalian dapatkan bersama imam, lakukanlah bersama imam.
Sedangkan sisanya harus kalian sempurnakan".

Dalam riwayat yang lain.

"Sedangkan sisanya harus kalian qadha"

Perselisihan itu terjadi karena setiap madzhab berdalil dengan salah satu
dari kedua riwayat tersebut.

Kami tidak ragu bahwa pendapat kedua yang merupakan madzhab Imam Asy-Syafi'i
adalah pendapat yang benar. Karena tidak ada perbedaan antara dua riwayat
tersebut dari segi makna kalimat " Sedangkan sisanya harus kalian qadha",
secara bahasa artinya adalah : "Harus kalian sempurnakan (tunaikan) qadha".

Madzhab Hanafiyyah menafsirkan kalimat : "Harus kalian qadha!", dengan
pemahaman qadha secara istilah. Padahal dalam bahasa Arab : "Harus kalian
qadha!" mempunyai makna : "Harus kalian sempurnakan (tunaikan)!".

Dan makna ini semakin jelas jika kita meruju beberapa ayat Al-Qur'an
mislanya.

"Artinya : Dan jika telah diqadha' (tunaikan) shalat, bertebaranlah di muka
bumi" [Al-Jumu'ah : 10]

Tidak ada seorangpun yang memahami arti qadha dalam ayat ini dengan qadha
secara istilah fiqih (menunaikan suatu kewajiban diluar waktu yang telah
ditentukan). Jadi arti qadha di sini adalah menunaikan/menyempurnakan.

Demikian pula firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Artinya : Maka jika kalian telah mengqadha' mansik-manasik kalian"
[Al-Baqarah : 200]

Makna meng-qadha' manasik-manasik kalian yaitu menyempurnakan
manasik-manasik kalian.

Adapun pertanyaan kedua dapat dipahami dari penjelasan di atas, maka kami
jawab : Bahwa masbuq ketinggalan tiga rakaat, maka ia harus menambah satu
raka'at kemudian bertasyahud awal, kemudian ia tambahkan dua raka'at lagi
tanpa men-jahar-kan bacaan, dan tidak membaca apa-apa setelah membaca
Al-Fatihah dalam dua rakaat terakhir tersebut.

Sumber : http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg16073.html


PENJELASAN :

باب الإمام ينتقل مأموماً إذا استخلف فحضر مستخلفه
عن سهل بن سعد: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمْروِ بْنِ عَوْفٍ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ، فَحَانَتْ الصَّلاَةُ فَجَاءَ الْمُؤَذِّنُ إِلَى أَبي بَكْرٍ فَقَالَ: أَتُصَلِّي بِالنَّاسِ فَأَقِيمُ؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ فَجَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ فِي الصَّلاَةِ فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ فَصَفَّقُ النَّاسُ، وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لاَ يَلْتَفِتُ فِي الصَّلاَةِ، فَلَمَّا اكْثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ الْتَفَتَ فَرَأَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَأَشَارَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ امْكُثْ مَكَانَكَ، فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ يَدَيْهِ فَحَمَدَ اللَّهَ عَلَى مَا أَمَرَهُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ مِنْ ذَلِكَ، ثُمَّ اسْتَأْخَرَ أَبُو بَكْرٍ حَتَّى اسْتَوَى فِي الصَّفِّ وَتَقَدَّمَ النَّبِيُّ فَصَلَّى ثُمَّ انْصَرَفَ فَقَالَ: يَا أَبَا بَكْرٍ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَثْبُتَ إِذْ أَمَرتك؟ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: مَا كَانَ لاِبْنِ أَبِي قُحَافَةَ أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ : مَا لِي رَأَيْتُكُمْ أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيقَ، مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلاَتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتَفَتَ إِلَيْهِ، وَإِنَّمَا التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ» متفق عليه. وفي رواية لأحمد وأبي داود والنسائي قال: «كَانَ قِتَالٌ بَيْنَ بَنِي عَمْروِ بْنِ عَوْفٍ فَبَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ فَأَتَاهُم بَعْدَ الظُّهْرِ لِيُصْلِحَ بَيْنَهُمْ وَقَالَ: يَا بِلاَلُ إِنْ حَضَرَتِ الصَّلاَةُ وَلَمْ آتِ فَمُرْ أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ قَالَ: فَلَمَّا حَضَرَتِ الْعَصْرُ أَقَامَ بِلاَلُ الصَّلاَةَ ثُمَّ أَمَرَ أَبَا بَكْرٍ فَتَقَدَّمَ» وذكر الحديث.

قوله: «ذَهَبَ إِلَى بَنِي عَمْروِ بْنِ عَوْفٍ» أي ابن مالك بن الأوس، والأوس أحد قبيلتي الأنصار وهما: الأوس والخزرج، وبنو عمرو بن عوف بطن كبير من الأوس. وسبب ذهابه إليهم كما في الرواية التي ذكرها المصنف وقد ذكر نحوها البخاري في الصلح من طريق محمد بن جعفر عن أبي حازم أن أهل قباء اقتتلوا حتى تراموا بالحجارة، فأخبر رسول الله صلّى اللَّهُ عليه وآله وسلَّم بذلك فقال: اذهبوا نصلح بينهم. وله فيه من رواية غسان عن أبي حازم، فخرج في ناس من أصحابه، وله أيضاً في الأحكام من صحيحه من طريق حماد بن زيد أن توجهه كان بعد أن صلّى الظهر. وللطبراني أن الخبر جاء بذلك وقد أذن بلال لصلاة الظهر.
قوله: «فَحَانَتِ الصَّلاَةُ» أي صلاة العصر كما صرّح به البخاري في الأحكام من صحيحه.
قوله: «فَقَالَ أَتُصَلِّي بِالنَّاسِ» في الرواية الأخرى التي ذكرها المصنف أن النبي صلّى اللَّهُ عليه وآله وسلَّم هو الذي أمر بلالاً أن يأمر أبا بكر بذلك، وقد أخرج نحوها ابن حبان والطبراني، ولا مخالفة بين الروايتين لأنه يحمل على أنه استفهمه، هل تبادر أول الوقت أو ننتظر مجيء النبي صلّى اللَّهُ عليه وآله وسلَّم؟ فرجح أبو بكر المبادرة لأنها فضيلة محققة، فلا تترك لفضيلة متوهمة.
قوله: «فَأُقِيمُ» بالنصب لأنها بعد الاستفهام، ويجوز الرفع على الاستئناف.
قوله: «قَالَ نَعَمْ» في رواية للبخاري: «إِنْ شِئْتَ» وإنما فوّض ذلك إليه لاحتمال أن يكون عنده زيادة علم من النبي صلّى اللَّهُ عليه وآله وسلَّم في ذلك.
قوله: «فَصَلَّى أَبُو بَكْرٍ» أَي دخل في الصلاة، وفي لفظ للبخاري: «فَتَقَدَّمَ أَبُو بَكْرٍ فَكَبَّرَ». وفي رواية: «فَاسْتَفْتَحَ أَبُو بَكْرٍ» وبهذا يجاب عن سبب استمراره في الصلاة في مرض موته صلّى اللَّهُ عليه وآله وسلَّم، وامتناعه من الاستمرار في هذا المقام، لأنه هناك قد مضى معظم الصلاة فحسن الاستمرار، وهنا لم يمض إلاَّ اليسير فلم يحسن.
قوله: «فَنَخَلَّصَ» في رواية للبخاري: «فَجَاءَ يَمْشِي حَتَّى قَامَ عِنْدَ الصَّفِّ»، ولمسلم: «فَخَرَقَ الصُّفُوفَ».
قوله: «فَصَفَّقُ النَّاسُ» في رواية للبخاري: «فَأَخَذَ النَّاسُ فِي التَّصْفِيحِ، قَالَ سَهْلٌ: أَتَدْرُونَ مَا التَّصْفِيحُ؟ هُوَ التَّصْفِيقُ». وفيه أنهما مترادفان، وقد تقدم التنبيه على ذلك.
قوله: «وكان أبو بكر لا يلتفت» قيل: كان ذلك لعلمه بالنهي وقد تقدم الكلام عليه.
قوله: «فَرَفَعَ أَبُو بَكْرٍ يَدَيْهِ فَحَمَدَ اللَّهَ» . الخ، ظاهره أنه تلفظ بالحمد، وادعى ابن الجوزي أنه أشار بالحمد والشكر بيده ولم يتكلم.
قوله: «أَنْ يُصَلِّيَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ » تقرير النبي له على ذلك يدل على ما قاله البعض من أن سلوك طريقة الأدب خير من الامتثال، ويؤيد ذلك عدم إنكاره على علي عليه السلام لما امتنع من محو اسمه في قصة الحديبية. وقد قدمنا الإشارة إلى هذا المعنى في أبواب صفة الصلاة.
قوله: «أَكْثَرْتُمُ التَّصْفِيقَ» ظاهره أن الإنكار إنما حصل لكثرته لا لمطلقه، ولكن قوله: «إِنَّمَا التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ» يدل على منع الرجال منه مطلقاً.
قوله: «الْتَفَتَ إِلَيْهِ» بضم المثناة على البناء للمجهول. وفي رواية للبخاري: «فَإِنَّهُ لاَ يَسْمَعُهُ أَحَدٌ حِينَ يَقُولُ سُبُحَانَ اللَّهَ إِلاَّ الْتَفَتَ». (والحديث) يدل على ما بوّب له المصنف من جواز انتقال الإمام مأموماً إذا استخلف فحضر مستخلفه، وادعى ابن عبد البر أن ذلك من خصائص النبي ، وادعى الإجماع على عدم جواز ذلك لغيره، ونوقض أن الخلاف ثابت، وأن الصحيح المشهور عند الشافعية الجواز، وروى عن ابن القاسم الجواز أيضاً.

وللحديث فوائد ذكر المصنف رحمه الله تعالىٰ بعضها فقال فيه: من العلم أن المشي من صف إلى صف يليه لا يبطل، وأن حمد الله لأمر يحدث والتنبيه بالتسبيح جائزان، وأن الاستخلاف في الصلاة لعذر جائز من طريق الأولى، لأن قصاراه وقوعها بإمامين اه. ومن فوائد الحديث جواز كون المرء في بعض صلاته إماماً، وفي بعضها مأموماً. وجواز رفع اليدين في الصلاة عند الدعاء والثناء. وجواز الإلتفات للحاجة، وجواز مخاطبة المصلي بالإشارة، وجواز الحمد والشكر على الوجاهة في الدين. وجواز إمامة المفضول للفاضل. وجواز العمل القليل في الصلاة، وغير ذلك من الفوائد.

*

نيل الأوطار شرح منتقى الأخبار / الجزء الثالث *

محمد بن علي بن محمد الشوكاني


- Hadits ini menunjukan bahwa :
1. berjalan/bergerak dari shaf ke shaf berikutnya tidak membatalkan shalat
2. bertahmid karena suatu hal dan bertasbih untuk mengingatkan imam dibolehkan
3. meminta digantikan posisi imam karena uzur dibolehkan dengan cara pertama
4. Seseorang boleh dalam satu shalat satu waktu sebagai imam atau menjadi makmum
5. boleh mengangkat tangan dalam shalat ketika berdo'a atau memuji
6. boleh mengajak orang dalam shalat dengan isyarat
7. boleh bersyukur dan bertahmid dalam urusan agama
8. boleh mengangkat imam yg diutamakan kedudukannya untuk yg utama
9. boleh melakukan sedikit gerakan dalam shalat.

Wallahu A'lam Bish-Shawwab
Selasa pukul 20:19 · Hapus Kiriman
#
Subhan Nurdin Berjamaah bagi Makmum yang Masbuq*
Ditulis Oleh. Administrator
Tuesday, 12 December 2006

Shalat berjamaah yaitu shalat yang dilakukan bersama oleh dua orang atau lebih.

Dalam pelaksanaanya,
berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad 1, hendaklah salah seorang (dalam shalat berjamaah) menjadi imam.Dan berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad 2 juga, bahwa shalat berjamaah yang terdiri dari dua orang, posisi makmum berada di samping kanan imam.

Shalat berjamaah memiliki keutamaan daripada shalat yang dilakukan sendirian ( munfarid ). Beberapa riwayat yang menerangkan tentang keutamaan shalat berjamaah yaitu:
Dari Ibnu Umar r.a. ia berkata: “Rasulullah saw. Bersabda: ‘ Shalat berjamaah itu mengungguli keutamaan shalat munfarid dengan duapuluh tujuh derajat'” Muttafaq Alaih 3.

Dari Ubay bin Ka'ab, ia berkata, “Rasulullah saw. Bersabda:” Shalat seseorang dengan sesorang lainnya (berjamaah) lebih bersih dari shalat sendirian ( munfarid). Dan shalatnya dengan dua orang lainnya lebih bersih daripada shalatnya bersama seorang lainnya. Dan lebih banyak (jumlahnya) maka lebih dicintai oleh Allah Ta'alaa” 4.

Karena umumnya dalil di atas serta tidak adanya pengecualian/pengkhususan ( takhsis), Maka tidak ada halangan bagi makmum yang masbuq dari mendapatkan pahala atau keutamaan shalat secara berjamaah.

Pernah suatu ketika Nabi saw. Bermakmum kepada Abu Bakar. Kemudian karena Abu Bakar tidak sanggup (merasa tidak pantas) untuk mengimami Rasulullah saw. akhirnya Rasulullah saw. menjadi imam dan Abu Bakar menjadi makmum. Dengan kata lain Nabi saw. sebagai makmum yang masbuq menjadi imam dan Abu Bakar sebagai imam menjadi makmum. Sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim :
Dari Aisyah , ia berkata :“ketika Nabi merasakan sakitnya semakin berat, Bilal datang memberi tahu beliau tentang shalat. Nabi bersabda:” Suruhlah Abu Bakar agar mengimami orang-orang (berjamaah)”.

Aisyah berkata: “Wahai Rasulullah, dia itu seorang yang mudah menangis, kapan saja ia berdiri di tempat biasa engkau mengimami, suaranya tidak akan terdengar oleh makmum. Bagaimana jika engkau suruh saja Umar”.

Nabi Bersabda:” Suruhlah Abu Bakar agar mengimami orang-orang (berjamaah)”. Lalu ‘Aisyah berkata kepada Hafshah:”katakanlah olehmu (Hafshah) kepada beliau ‘Bahwasannya Abu Bakar itu seorang yang mudah menangis, kapan saja ia berdiri di tempat biasa engkau mengimami, suaranya tidak akan terdengar oleh makmum'.
Lalu Hafshah pun mengatakannya kepada beliau. Lalu Nabi saw. bersabda :” kalian ini kawan-kawan Nabi Yusuf, suruhlah Abu Bakar agar mengimami orang-orang (berjamaah)”.

Maka mereka pun menyuruh Abu Bakar agar mengimami orang-orang (berjamaah). Ketika Abu Bakar telah mulai mengimami, Rasulullah saw. merasakan rasa ringan pada sakit beliau, maka beliau dipapah oleh dua orang masuk masjid dan kakinya tergusur di tanah.

Maka ketika beliau masuk masjid, Abu Bakar merasakannya, dan mencoba untuk mundur, tetapi Nabi berisyarat agar Abu Bakar tetap ditempatnya.
Datanglah Rasulullah saw. dan duduk disebelah kiri Abu Bakar”. Aisyah menerangkan lagi,” Maka Rasulullah saw. mengimami jamaah sambil duduk, sedangkan Abu Bakar berdiri bermakmum kepada Nabi dan orang-orang berimam kepada Abu Bakar”.5

Dari keterangan Imam Muslim lainnya, Rasulullah saw. pernah masbuq bersama shabat, lalu mereka menyelesaikannya/menyempurnakan kekurangan rakaatnya dengan cara berjamaah. Adapaun haditsnya sebagai berikut:

Dari al-Mughirah bin Syu'bah, ia berkata: “Rasulullah saw. ketinggalan rombongan demikian juga aku … kemudian beliau menaiki kendaraanya dan aku pun berkendaraan bersamanya. Maka kami sampai kepada kaum (rombongan itu),ternyata mereka sedang melaksanakan shalat dan Abdurrahman bin Auf yang mengimami mereka, mereka telah salat satu rakaat. Tatkala Abdurrahman bin Auf merasa bahwa Nabi dating, ia berusaha untuk mundur, tetapi Nabi berisyarat agar Abdurrahman bin Auf tetap pada tempatnya mengimami mereka.

Tatkala Abdurrahman bin Auf (bersama jamaah) melakukan salam (selesai dari shalatnya), Nabi saw. berdiri dan aku pun berdiri, lalu kami berjamaah melaksanakan rakaat shalat yang ketinggalan” 6

Dengan demikian jelaslah bahwasannya makmum masbuq lebih dari satu orang itu pada saat menambah kekurangan rakaat yang ketinggalan hendaklah dilakukan secara berjamaah. ( Wallahu a'alam bishshwab)

Allahu ya'khudzu biadiinaa ilaa maafiihi khaerun lilislaami wal muslimiin

Catatan :

* Disalin dengan perubahan dari kumpulan Keputusan Dewan Hisbah Persatuan Islam. KH. Wawan Shofwan Shalehuddin."Mengangkat Imam di antara makmum yang Masbuk" .2004
1. HR. Ahmad, al-Musnad Syarah Ahmad Muhammad Syakir. VI:136. no: 4272
2. HR. Ahmad, al-Musnad Syarah Ahmad Muhammad Syakir. I:364 .
3. Shahih al-Bukhori. I:158. dan Shahih Muslim. I:228.
4. Al-Musnad. Imam Ahmad. V:140
5. HR. Muslim. I:197. no: 418
6. HR. Muslim. I:141

http://www.scribd.com/doc/32677832/Posisi-Shaf-Shalat-Berjamaah

http://subhan-nurdin.blogspot.comShare/Bookmark

ALJAZEERA TV

 
Coolstreaming Channel 47362

Islam America

KAKAWIHAN

ISLAMIC VIEW

ISLAMIC WALLPAPERS

AKSES LINK OK

Bookmark and Share
Bookmark and Share